oleh

Turnamen Mini Tenis Meja Kemayoran Jakarta Dibuka Ketua PTMSI-DKI

wajah-wajah optimis calon juara
Si Daeng Kocak Penggoda si Tambun
Walau stress, nikmati dulu jatah dari panitia
Karena tegang, sampe-sampe kamera ikut gelap

Jakarta News. Dalam pembukaan turnamen mini dan terbatas kejuaraan tenis meja yang diadakan PTM.Taruna, tanggal 5-6 Desember 2020 di Kemayoran Jakarta Pusat, Ketua Pengprov PTMSI DKI Jakarta Ir.Hanif Rusjdi,MM menyatakan, saya bangga dengan cekatan panitia dalam melaksanakan kejuaraan ini. Yang berpedoman pada protocol kesehatan dan cara pengaturan jadwal pertandingan yang tidak menimbulkan penumpukan pemain. “Hal ini mungkin bisa diikuti oleh para PTM lainnya yang hendak melakukan kegiatan sama” tegas Ketua PTMSI DKI. Saya berharap, “junjung sportifitas, solideritas dan saling menghargai terhadap sesama. Insya-Allah dengan rutinitas kegitan macam gini, tentu tenis meja akan lebih digemari dan maju” tutur beliau.

Di akhir sambutannya Hanif mengutip kerkataan Bung Karno, bahwa “sekaliber apapun seseorang, sebesar apapun dia. Jika berhadapan dengan masalah, tidak bisa lepas dari rasa tegang dan stres. Entah itu orang besar, orang awam, orang tenar, orang pintar, orang biasa, ahli pidato, pemain pantomim atau komedian, pasti akan merasakan stres. Oleh karena itu, pandai-pandailah mengatasi stress dalam bertanding”, pesan Hanif.

Benar saja yang dikatakan Hanif. Dari pantauan Jakarta News, banyak hal-hal lucu yang membuat ketawa. Karena beban mental dan stress tersebut, ada yang mondar-mandir ke kamar kecil, ada yang ngebul kaya kereta, ada yang minum kopi tanpa merasakan panasnya kopi yang baru diseduh, ada yang elus-elus janggut, ada yang khusu’ komat-kamit berdzikir sambil menyimak permainan calon lawannya, pokoknya banyak tingkah yang membuat ketawa. Termasuk seseorang yang biasa dipanggil Daeng (bukan nama asli) mengalami tegang saat menunggu giliran berlaga.  

Karena stress dan tegang… tidak disadarinya, ia manjat laksana anak TK, menaiki tangga. Tangga lengkung setengah lingkaran yang sebetulnya khusus untuk anak-anak TK bermain, ditongkrongi oleh Daeng.

Di pucuk tangga Daeng bergaya dan ber-eksen… Kebetulan di warung depannya ada pandangan menarik yang ‘ADUHAI’ yaitu dua wanita SUBUR’ tapi masih cukup BAHENOL yang setia melayani para pembeli. Jadi arah pandang si Daeng banyak tertuju ke warung itu. “Ayo ngaku Daeng, jangan bantah…!

Demi mengurangi stress dan tegang, yang dilakukan Daeng bukan hanya curi pandang…. Tetapi dengan gaya umumnya orang sebrang, ia berusaha ‘MPO’, mengeluarkan Juk-Juk kocak menggoda yang ngocor dari bibirnya. Dan rupanya si Daeng  ahli di bidang itu.

Untuk melancarkan obsesinya… Si Daeng juga melemparkan kuis kepada penonton, tetapi dilihat dari lirikan matanya sengaja ditujukan kepada kedua ‘Bahenol’ itu… Kuisnya adalah: “apa bedanya saat orang tinggal di desa dengan orang yang sudah netap di kota dalam hal berjalan ?,” tanya si Daeng. “Nggak tau,” jawab kedua bahenol itu dengan pesaraan ingin tahu. “Ayo dong kasih tau,” pintanya.

Dengan senyum sumringah, Si Daeng buru-buru turun dari tangga TK itu untuk memperagakan yang diminta dua Bahenol… Daeng pun beraksi seraya meminta perhatian orang (MPO) sambil berucap: Kalau di desa, karena jalanannya adalah pematang sawah, jadi jalanya harus focus dan tegakDaeng  peragakan berjalan mirip militer. Kalau di kota, karena jalanannya aspal dan lebar jadi bisa ‘lenggang-lenggong dan kangkang’.

Lalu Daeng memperagakan cara jalan lenggang-lenggong kangkang yang membuat penonton gerrrrr… ketawa. Berhasil lah si Daeng menggoda sambari hilangkan stress menunggu giliran bertanding.

MPO-nya Si Daeng belum berhenti sampai di situ. Saat temannya yang bernama SAM lagi stress karena bertarung 5 Set…. Spontan saja si Daeng berkata, “ayo kita berdoa buat pak SAM yang lagi berlumuran keringat”. Karena suara Si Daeng keras dan gelegar sehingga semua penonton  focus ke Daeng…. Mulailah ia ikrarkan doa “Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Robbilaalamin Ihdinassirotol-Mustajab…!” ucap Daeng. Geeeerrrrrrr orang pada ketawa lagi.

Dan ternyata setelah penulis tahu, bahwa Si Daeng itu adalah orang sebrang yang bernama aslinya Mustajab. Jadi dia guyon dengan atas namanya sendiri. “Selamat Daeng, anda berhasil menghidupkan suasana, sewalau Anda berduka dalam pertandingan”. Jangan kapok yaa… Kehadiran dan guyon Anda ditunggu oleh teman-teman.