oleh

Tengil Meringis, Jahil Tabassa’, Tasrobu Khamar ‘Khatam’…!

‘Dae’ begitulah biasa ia dipanggil… Orangnya Cerdik, pintar, ramah, terkadang jahil. Usianya telah menginjak 62 tahun, rambut dan kumis yang memutih dibiarkan tanpa disemir. Hoby-nya mancing. Karena piawai dalam urusan perpancingan, sehingga oleh teman-temanya  digelari “Pa’Guru.” Diusianya yang sudah tergolong senja belum terlihat tanda-tanda untuk meninggalkan hobinya itu… Justru katanya “berjemur diri diterik matahari merupakan vitamin baginya.” tutur Muhammad Farid, S.Pd, yang jahilin preman dalam tulisan ini.

Pengalaman-pengalaman unik selama menjalani hobynya itu, tersusun rapi dalam buku hariannya. Rencananya pada suatu saat nati akan dijadilan buku, sekedar untuk kenangan hidup yang mungkin juga bisa dibaca oleh anak-cucunya.

Nyarap Pagi Menjelang Tempur

Test Nyali Untuk Preman.

Sudah biasa sebagai bakti istrinya terhadap suami, setiap pulang kerja sambil nunggu adzan magrib selalu disuguhin teh favoritnya (teh tubruk) sebagai Cs sigaret kretek yang senantiasa setia menemaninya baik saat ngaso di rumah atau saat ia mancing. Lagi asyik-asyiknya menikmati suguhan sang istri, terdengar ucapan salam dari balik pagar. Dilihatnya ada seorang preman yang telah lama dikenalnya bernama “Fery”. Fery dikenal jagoan yang memegang wilayah Pasar Rebo dan sekitarnya.

Silakan masuk Fer..” sambutnya, “Ada apa gerangan kok tumben nih” sambungnya. Dengan penuh hormat ala Jawara Fery bertanya, “Pak Guru…, kapan mau mancing lagi, saya juga pingin ikut,” tutur Fery.  Sambil isap sigaretnya Pak Guru bertanya kembali “Benar nih mau ikut, gak takut mabuk…” kelakar Pak Guru. Dengan gaya jawaranya seraya meyakinkan Pak Guru, Fery menjawab “masa saya mabuk, wong minum jangkar satu krat aja saya enggak apa-apa kok,” jawabnya bangga. “Baiklah kalau gitu nanti saya kabarin,” timpa Pak Guru sambil buru-buru karena di masjid karena adzan magrib sudah dikumandangkan.

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah mereka menuju daerah Kulon dengan menggunakan Mobil Suzuki Futura, bersama lima orang teman Pak Guru, salah seorang diantaranya adalah dokter, beserta dua orang preman (Fery dan Udin). Kata Pak Guru dalam hati “ini kesempatan untuk kerjain preman reseh gini, kalau nggak sekarang kapan lagi” kata Pak Guru dalam hati. Pada saat mau star, teman-teman Pak Guru kaget, kok tiba-tiba Pak Guru minta dirinya yang menjadi supir. Sontak teman-temannya faham, pasti Pak Guru ada akalnya nih, bisik mereka. Karena sudah tahu gaya dan niat dari Pak Guru, temannya sigap dan mengambil posisi duduk yang aman karena mereka tahu, bahwa Pak Guru ada niat untuk kerjain dua preman yang katanya jagoan dan pantang untuk mabuk.

Benar saja…., dalam keheningan malam menuju daerah Banten yang banyak melewati jalan rusak dan berbatu, mobil Susuki Futura Tua dipacu Pak Guru nyaris menyamai kecepatan Formula-1 nya Miechel Shummakel, hingga dua Jawara itu terpingkal-pingkal sambil  berteriak, meminta agar kecepatan mobil dikurangi. Makin kencang teriakan, sekencang itu pula mobil dipacu Pak Guru, hingga kedua preman itu muntah-muntah terkulai lemas.

Reman itu gak nyangka, Pak Guru yang dikenal kalem itu, bisa membawa mobil kesetanan, pikir mereka. Sesampai di Kulon, preman tengil yang telah letoy ‘KO’ itu hanya berucap: “tobat saya, kapok gue, tidak akan mau lagi ikut Pak Guru gila…,” ujarnya sesal.

Tidak habis sampai di situ.., kepada preman yang sedang smaput itu, Pak Guru dengan santainya menyuruh mereka makan yang banyak. Sambil ngeledek.. “masa… jagoan mabuk, malu dong… Apa kata dunia”  ledeknya. Dalam kondisi nyesal dan badanya yang lemas, hanya segelas teh hangat yang dapat melintas di tenggorokan reman tengil itu. Minuman favorit yang selama ini setia dengannya rasanya semua ‘Veurboden alias terlarang saat itu’.

Santai dulu ach……

Di dermaga kapal telah menunggu, dan merekapun bersama-sama menaiki kapal yang membawanya menuju area penyaluran hoby. Terpaan angin dan hempasan ombak yang tidak berirama, menghadirkan derita baru bagi sang preman. Apalagi Pak Guru jahil itu berpesan “jangan dekatin kasur gue.., Gue ogah kebagian muntah lu lu pade” ujar Pak Guru ngledek dengan gaya betawi. Dalam otaknya hanya tersisa kesal dan menyesal. “Kenapa juga gue ikut ke neraka gini… Dasar P’Guru sableng kerjain kita,” gerutunya. “Benar bang.., kalau tahu gini ngapain amat. Mana jatah TIMMER kita hilang lagi,” timpa Udin sang ajudan.

Iba melihat reman yang telah loyo, Pak Dokter lalu memberinya obat penenang, sehingga kedua reman itu tertidur pules. Sementara Pak Guru dan teman lainnya sibuk berpancing ria.  Kru kapal pun sibuk menyiapkan makanan untuk santap siang. Tepat pukul 13.00 wib, aroma hidangan sedap; ikan goreng, bakar dan rebus sudah tercium dan segera tersaji. Kedua reman pun sudah mulai stabil, lalu mereka bersantap rame-rame sambil sekali-sekali melihat pancing dan panorama laut. Dua hari dua malam terombang-ambing di atas kapal, kondisi sang reman tengik sudah bisa bergaya,  lalu mereka pulang dengan membawa ikan.

Dalam perjalanan pulang, sang reman dengan tegas meng-ultimatum, agar “supir gila yang telah memudarkan reputasi reman ‘dipensiunkan’ alias diganti dengan supir yang faham selera. Kalau tidak, kami akan Long mars alias jalan kaki aja,” ancamnya. Permintaan reman dipenuhi, sehingga semua aman sampai di rumah.    

Hal Aneh…! Sepulang dari mancing dan hingga saat ini, entah kenapa Jawara Fery  pun tidak tahu, bahwa dia tidak suka lagi untuk meminum minuman khamar. Begitu pula terhadap mancing, ia pun telah bertobat-nasuha untuk tidak ikut lagi memancing bersama Pak Guru gila. Istri Fery pun bersyukur dan bertanya kepada Pak Guru, tentang suaminya yang tidak tertarik lagi dengan minuman keras. (bersambung) Edisi berikutnya “Saat mancing dihampiri Mayat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.