oleh

Sekjen Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia Drs.Hendaryanto.MM. Smart Bergaul Cerdas Dalam Ekselerasi

Ketua AWPI DPD DKI berpose bersama Sekjen AWPI
Serius dengarin sharing dari Pak Sekjen

Jika ingin beraudiensi dengan Sekjen AWPI Drs.Hendaryanto,MM siapkanlah waktu yang ekstra dan siap-siaplah ketawa. Kalau lagi sakit gigi atau alergi ketawa sebaiknya tunda, karena kita akan dibuat betah, enjoy, ketawa terpingkal. Tanpa disadari kemasan retorisnya itu sengaja untuk ‘membentuk karakter building’ para anggota AWPI terutama tentang tata kerja, cara interaksi dan ekselerasi sehingga pekerjaan wartawan itu terasa indah, bergengsi dan menarik. 

Bersama Ketua Korwil Dra.Magdalena Patty Pikasau, Ketua DPD AWPI DKI kandidat DR.Erni Bajau dan Ketua Bidang OKK DPD DKI Umar Fauzi, MSi. Kami menemui sekjen di Mall Pasar Raya Manggarai Jakarta Selatan dari pukul (13.00-17.00) WIB. Dalam acara dadakan itu, kami dipaksanya harus mengeluarkan air mata karena ketawa mendengankan paparan beliau yang disajikan dengan kocak.

Apa Paparannya?. Ini dia sesi Pertama. Saat menjabat sebagai kepala seksi di jajaran dinas suatu departemen, para seniornya kalang kabut karena akan diperiksa BPK. Ekspresi orang panik kata sekjen kita ini “mukanya jelek, kusam, selera makan hilang, sedikit-sedikit pipis, rokok terasa pahit, pokoknya jeleklah dan semua tidak enak” tutur Hendar mengawali ceritanya. Sementara dia sendiri, karena dianggap anak baru dan jabatannya rendah, masih bisa bersantai-santai dan menikmati rokok. Kepanikan kepala biro, kabag, dan lainnya memuncak saat rapat evaluasi, sehari sebelum diperiksa Auditor, karena banyak anggaran yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Dalam suasana panik demikian, Hendar (panggilan akrabnya) ikut kemukakan pendapat, “jangan terlalu panik, Insya-Allah ada jalan keluar dari saya” tegas Hendar. Para senior lider kaget, dan mereka bertanya, “kamu kenal dengan Auditor?” tanya kepala biro. “Kenal sih tidak, tapi ada jalan keluarnya” jawab Hendar mantap.  “Apa yang kamu lakukan, dan apa yang perlu dipersiapkan?” tanya kepala biro berharap. “Besok saat diperiksa, jawab saja apa adanya sesuai data kita ini, adapun kekurangannya menjadi urusan saya” jawab Hendar yakin. “Emang kamu punya banyak uang, lalu apa yang kita siapkan?” tanya kepala biro tambah perasaan. “Usai makan siang, arahkan kepad semua Auditor untuk sholat berjama’ah di masjid kita, dan ini ‘harus dilakukan tidak boleh tidak” tegas Hendar. Ke-esokan harinya acara pemeriksaan, makan siang dan sholat jama’ah bersama terlaksana sesuai arahan Hendar.

Seusai sholat, Hendar mengajak para Auditor untuk melihat-lihat kondisi masjid yang megah dengan asesorisnya menarik, sambil guyon ia berkata, “doa para Auditor, doa kita semua telah mengintari Arsy’ Sidratul Munthaha, dan Tuhan tentu tersenyum dengan kepedulian kita terhadap rumah ibadah dan meramaikannya” ucap Hendar. Para Auditor tercengan dan kagum, tanpa mengetahui maksud tujuan dari Hendar. Lalu Hendar pun melanjutkan, “APBN, DAU ataupun DAK tidak ada yang khusus untuk pembangunan masjid atau rumah ibadah. Dengan berdirinya masjid-masjid megah, karena ada kepedulian kita semua untuk mensiasati anggaran sehingga masjid kebagian. Itu yang terjadi di tempat kita ini”, papar Hendar. Oleh karena itu “adanya kekurangan dalam proyek yang sedang diperiksa ini, dan dianggap sebagai temuan, konsekwensinya akan kami terima yang penting tidak mendapat murka dari Allah” ungkap Hendar seraya menggugah hati para Auditor. Trik cerdas dari Hendar ternyata jitu, membuat Auditor manggut-manggut karena dianggap logis, sehingga kepala biro, para senior dan teman-temannya bisa tersenyum lega, karena dianggap tidak ada temuan.

Sesi kedua obrolan dengan sekjen…! Setelah sukses mengatasi masalah tanpa masalah, dengan jabatannya baru sebagai kepala seksi, kebetulan instansinya diundang Bapenas  rapat untuk para dirjen. Karena tidak ada pejabat lain saat itu, sementara pada hari yang sama, dirjen rapat bersama menteri, sehingga Hendar diminta untuk mewakili dirjen rapat di Bapenas. Karena para dirjen lain dikenal oleh Ketua Bapenas dan semua sudah hadir,  tinggal Hendar sendiri yang ditanya, “anda siapa, mana dirjennya?” tanya Ketua Bapenas. “nama saya Hendaryanto, mewakili dirjen karena dirjen saya lagi ada rapat penting dengan menteri” jawab Hendar. “apa jabatan anda” Ketua Bapenas sedikit mengorek.  “Jabatan saya kepala seksi” jawab Hendar tanpa beban. Mendengar jawaban itu, Ketua Bapenas mangkel, “ini rapat setingkat dirjen, bukan kasi…” Ketua Bapenas marah. Karena tanpa beban, Hendar pun mengeluarkan surat penugasan, “sesuai surat tugas ini, kapasitas saya sekarang adalah dirjen” jawab Hendar tidak kalah garangnya. Dalam adu argument itu, dirjen lain hanya mesem-mesem. Karena merasa didebati sehingga Ketua Bapenas  berkata, “anda bisa memutuskan masalah yang bisa diterima dirjen-mu?” tanya Ketua Bapenas. “Bisa, walaupun salah” jawab Hendar dengan PD, dan disambut ketawa para dirjen lainnya. Sehingga nama Drs.Hendaryanto,MM menjadi terkenal dan diingat oleh dirjen lainnya.

Sesi ketiga…! Salah seorang pejabat di Kalimantan dapat giliran diaudit BPK berkaitan dengan suatu proyek. Guna keperluan itu, Hendar diutus untuk memonitor dan memantau keadaan. Ditemuinya pejabat terkait yang tengah ketar-ketir di Kalimantan, lalu ditanyakan tentang progress pelaksanaan proyek tersebut. Sesuai data yang didapatnya, bahwa kelambatan disebabkan selain infrastruktur yang belum tuntas dikerjakan, juga karena faktor alam dan lokasi proyek medannya yang sulit.

Menyikapi hal itu Hendar cari akal, lalu koordinasi dengan pimpro guna mengatur strategi bagaimana bisa aman dari bidikan Auditor. Hendar mendapatkan ide brilian yang membuat pimpro tersenyum dan semangat untuk menyediakan yang diminta Bos Hendar.

Apa yang dimintanya?. Berikut strategi cerdas dari Juragan Hendar hingga terhindar dari ‘temuan’; “Pertama, kaitan infrastruktur belum rampung, saat visit hindari untuk lewat darat, danarahkan untuk lewat sungai ‘yang banyak buayanya’; Kedua, Siapkan dua buah speed-boat”, ini dua perintah dari Bos Hendar kepada pimpro.

Ke-esokan harinya Hendar mengatakan kepada Auditor, “visit ke lokasi lewat darat mengandung resiko karena jalannya rusak berat dan harus mutar, sehingga kemungkinan kita akan nginap. Oleh karena itu saya usul, biar cepat sampai dan bisa kembali hari ini juga, kita lewat sungai kebetulan speed-boat sudah tersedia” saran Hendar. Rupanya disetuju dan Hendar pun mempersilakan kepada Auditor menaiki speed-boat, dan Hendar sendiri memakai speed-boat yang satu lagi.

Iringan speed-boat menyusuri sungai, sambil menikmati alam asri Kalimantan menambah indah suasana perjalanan. Belum ada separoh perjalanan, sontak kegembiraan mereka sirna karena terlihat ada buaya besar… Hendar memberi isyarat agar speed-boat dihentikan. Kemudian ia ngomong ke Auditor, “banyak maaf Pak Auditor, saya ngeri mati konyol disantap buaya kalau perjalanan diteruskan. Bagi saya masih ada kesempatan lain untuk memeriksanya. Kalau rekan-rekan Auditor ingin lanjut ke lokasi, dipersilakan dan saya akan pulang dan menunggu di hotel saja” tutur Hendar. Rupanya nyali Auditor ciut juga dengan kelihaian Hendar ber-strategi. Mereka lalu kembali tanpa sedikitpun curiga, sementara pimpro tersenyum karena masih berkesempatan untuk segera menyelesaikan pekerjaan tanpa dihantui bayangan ‘temuan’ yang bisa menyeretnya ke meja hijau.

Pesan Management AWPI melalui Sekjen cerdasnya itu antara lain: Dalam menjalani tugas, seorang wartawan harus cerdas berstrategi, cerdas bersikap, smart dalam ekselerasi. Kalau sudah demikian di manapun kita berada akan dihargai dan dihormati banyak pihak”.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.