oleh

PTM. Sawal, Tugu Selatan Jakarta Utara, Berolahraga Untuk ‘Melawan Covid-19’

Jakarta-News. Seru….! Rivalitas bergengsi antara pemain tenis meja manula, Aji Sao (Arsyad Masrun) dan Aji Dole (Abdullah) di PTM. Sawal Tugu Selatan Jakarta Utara, tidak pernah surut alias paceklik. Keduanya tidak ada yang pernah mengakui kalah. Dalam pertemuan tadi pagi Sabtu 9 Januari 2021, Aji Dole keluar sebagai pemenang. Demi gengsi (menutupi) malu karena kalah, ada saja cara Aji Sao (pemain) senior yang tidak maju-maju itu berkelit untuk menangkalnya. “Main sama Aji Dole mah.., nggak masuk dalam hitungan. Tadi saya main dengan mengocok dia sampai terpingkal-pingkal agar Imun-nya kuat, sehingga tidak terserang oleh Covid-19. Saya sengaja bikin 5 game biar virusnya mabuk alias semaput dan tidak terjangkit dalam tubuhnya dia,” tutur Aji Sao sembari ngeledek rivalnya.

Tidak kalah gengsinya, Aji Dole membalas komentar rivalnya itu dengan retoris akademis. “Secara ilmiah, postur tubuh yang masih atletis, akan lebih lincah mengejar bola, dibandingkan yang kelebihan berat… Berat badan saya masih ideal untuk melakukan smesh-smesh tajam yang sulit diantisipasi, sehingga wajar bisa menang dengan mudah dan bergengsi,” papar Aji Dole, tidak mau kalah dengan ocehan rivalnya itu.

Untuk membuktikan ke-ilmiah-an teori saya, besok tarung lagi. Kita pilih wasit yang netral dan tegas yaitu ustazd. Zul, pinta Aji Dole sebal dengan komen rivalnya itu.

Boleh….Kita buktikan besok. Usahakan datangnya lebih awal lagi, biar lemas-lemasin pukulannya” jawab Aji Sao, tidak kalah gertak.

Hadir juga dalam partisipasi meningkatkan imun melawan Covid-19 itu, adalah Muhammad Siddik Wahab atau yang biasa disapa Dae Sedo. Beliau adalah pemain kawakan PGRI Jakarta Utara yang suka bergaya dengan bintik andalannya. Posturnya yang nyaris 2M menjadikannya gampang mengoceh lawan hingga pontang panting mengejar bola. Sudah banyak korban yang dibuat Dae Sedo pontang panting, sehingga malas untuk melawannya.

Tidak kalah sengitnya adalah rivalitas antara Uba Beho dengan Ruslin si kidal kaku. Permainan mereka boleh dibilang masih level Paket-C, tetapi gaya dan semangat demi gengsi dan harga diri, laksana pejantan yang gigih menjaga teritorinya. Ia tidak rela daerah kekuasaannya terganggu oleh pejantan lain. Sorak penonton yang meledek cara mereka bermain, justru menambah gigih keduanya untuk memenangkan pertandingan. Dan keluar sebagai pemenang hari itu adalah si kidal kaku.

“Jangan senang dulu ya…. besok akan saya balas,”  tegas Uba, karena tidak tahan diledek oleh kidal kaku.  

Kegiatan liburan itu, dimeriahkan juga partai eksebisi antara pemain Afganistan (Zul Afghan) melawan El-Wawo. Dengan gaya berbeda, permainan keduanya berlangsung seru dan saling merebut point. Karena Afganisthan terbiasa, (usai) memukul bola lalu mengelus janggut, sehingga dimanfaatkan oleh lawannya untuk memenangkan permainan.