oleh

Pengusaha Bioskop Masih Tetap Harus Bersabar

jhonny Syafruddin bersama perwakilan masyarakat perfilman .
diskusi solusi hadapi pandemi corono

Yayasan Pusat Perfilman Indonesia H Usmar Ismail mengadakan forum diskusi dari  dalam tema  Solusi  Menghadapi Pandemi Corona yang turut hadir ketua GPBSI Djonny Syafruddin,Gusti Randa , Aktor gaek Pong Hardjatmo dan staf staf perwakilan terkait   di Gedung PPHUI Kuningan  kamis (3/9-2020).

Adapun yang yang menjadi bahasan hangat dalam diskusi dari Perwakilan Musyawarah Masyarakat Perfilman ini adalah upaya upaya dari Pengusaha bioskop dan pekerja film untuk dapat kembali bekerja secara aktif dan tetap mengikuti regulasi protokol kesehatan dengan baik .namun masih sulit sepertinya ajuan ini untuk dapat direalisasikan khusus untuk dapat dibukanya bioskop , dan ini disampaikan pula oleh ketua Gabungan Pengelola Bioskop  Independen Djonny Syafruddin kebutuhan hiburan bagi khalayak khusus masyarakat untuk hadir bioskop merupakan seni tersendiri dan mempunyai kenyamanan berbeda walaupun kini begitu banyaknya streming pada jaringan media online untuk dapat menonton melalui celular android perbedaan dirasakan sangat kuat menurut Ketua GPBSI ini contoh kecil adalah surround dynamic system audio dan luasnya layar yang disajikan dan ini tidak dapat dirasakan dengan kita menonton tayangangan film melalui stremming ,tapi apa yang harus dikata Pengusaha bioskop pun harus siap dengan sebuah regulasi pemerintah ,yang mana ini tetap menjadi pemikiran kita bersama khusus Masyarakat Perfilman apa yang dapat kita lakukan atau the ovecome mengatasi keadaan agar tetap dalam pagar pencegahan namun aktifitas dapat berjalan dalam ruang kesejateraan bagi pengusaha dan pekerja film .dan ini disambung amat antusias oleh Aktor yang cukup dikenal oleh masyarakat tanah air dalam mini seri legenda Siti Nurbaya Produksi TVRI 1991 arahan sutradara Dedi Setiadi ,dengan usulannya Gusti Randa menyampaikan pertama mungkin penonton bisa  mendapat surat rapidtes yang berlaku selama empat belas hari dan biasanya penonton itu sudah tenang dalam kebutuhan pokok yang terimbang dalam tolak ukur masa tenggang  2 minggu  masa berlaku dari surat rapidtes tersebut ini salah satu upaya agar penonton dapat masuk kedalam bioskop juga sekaligus bekerja sama dengan instansi pemerintah dalam program capture penyuluhan anti Pandemi Covid 19 misalkan sebelum film ditayangkan akan ada bumper clip penayangan sosialisi penjagaan kebersihan berikut dengan diberikan semacam vitamin kesehatan dalam bentuk permen yang diberikan penonton sebagai seuatu kerja sama dengan BUMN dalam penyajian obat obatan.dan jangan kita membahasakan seperti pengemis tolong dong dapat dibukakan bioskop sudah memenuhi standar sehat ini,kalau begitu mungkin akan direspon lamban dan tak akan dibukanya bioskop selama covid 19 ini belum berakhir ,ungkap aktor yang sekarang ini menjadi Pengurus besar PARFI ,

Jhonny Syafruddiin pengusaha bioskop tetap mengikuti regulasi pemerintah

Kembali kemasalah acuan pengusaha dan pengelola bioskop independen yang disampaikan kembali oleh ketua GPBI Jhonny Syafruddin bahwa kebutuhan untuk menonton bagi masyarakat Indonesia ini amat lah kuat ,data yang ada di Gabungan Pengelola Bioskop Indonesia (GPBSI), kini ada 1685 layar. Sedangkan dengan minat penonton dan produksi film yang terus meningkat idealnya Indonesia paling tidak membutuhkan 3000 layar.
Bioskop independen yang dimaksudkan adalah bioskop yang dikelola oleh individu swasta di luar bioskop berjaringan seperti Twenty One atau CGV.yang saat ini cukup tergulung dimana ada produksi dan tidak ada pasar yang akhirnya kami harus tetap bersabar.(fhm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.