oleh

P2Tel Dalam Bergaya: Silaturrahim Dan Olahraga Adalah Kuncinya

Wajah Sumringah Sang Juara Eko Pujiantoro (Baju Biru)
Sang wartawan yang setia meliput

Jakarta-News. “Silaturrahim akan memperpanjang usia dan lapangkan reziki”. Ucapan Nabi saw itu suatu isyarat akan perlunya interaksi dan kebersamaan. Karena dengan kebersamaan akan lahir keceriaan. Hati ceria, mampu mendeportasi ‘penyakit pensiunan’ (kolestrol, matik-reu, urat-asam).

Ungkapan ini dijalani beberapa pensiunan Telkom (maniak) tenis meja. Sebut saja: Ungsiadi (73) tahun, Kustriongko (68) tahun, Murzeki (60) tahun, Indra Yatim (67) tahun, Eko Pujiantoro (56) tahun serta Tivi Broto (55) dan Rahmat Hidayat (53) tahun. Mereka rata-rata masih bugar walau telah berusia senior.

Dalam turnamen tenis meja yang diadakan PTM.Taruna Kemayoran belum lama ini di Jakarta, mereka masih bisa bergaya, ekselerasi laksana anak muda ABG. Masih bisa ‘Cingko’ (bahasa Bima) yang artinya ‘loncat-loncat lincah anak kambing. “Hati-hati Bro… Lutut sudah tidak muda lagi. Jangan ekselerasi kaya anak kambing yang Cingko”  

Ungsiadi adalah pemain senior P2Tel. Mewakili teman-temannya, kepada Jakarta-News menuturkan, “silaturrahim dan berolahraga, banyak manfaatnya. Bisa ketewa-ketawa, badan sehat, bisa bernostalgia. Minimal dapat mengurangi problem pensiunan yaitu sakit” tutur Pa’De (sapaan) akrab Ungsiadi. Lebih lanjut Pa’De menuturkan, selain taqorub pada Allah. Silaturrahim dan olahraga adalah kunci untuk tetap sehat pungkasnya.

Saat berlaga di lapangan, Pa’De Ung berpasangan dengan Engkong Indra Yatim. Ciri khas Pa’ De masih kaya dulu, yaitu berikat kepala. Sementara Ngkong Indra, walau berbadan gembrot, tetap lincah dengan smesh-spin tajam. Sehingga set awal bisa unggul duluan (2-0). Namun apa hendak dikata, keringat yang menguras tenaga serta lawan yang masih muda, (setara) dengan usia cucu Pa’De dan Egkong. Sehingga akhirnya kalah terhormat (3-2), karena napas tidak bisa lagi berekselerasi lebih. “Luar biasa nih… Pa’De dan Ngkong Gaul. Semoga selalu sehat dan eksis

Pasangan berikutnya adalah Ncang Kustriongko berpasangan dengan Eyang Eko Pujiantoro. Permainan mereka di set-set awal Ok-banget. Smesh dan umpan-umpan jitu sangat akurat. Namun dalam set-set akhir, lagi-lagi masalah napas. “Makanya management napas dipake, biar tidak tekor… Untuk tidak diaudit SPI”.

Giliran Datuk Zeki (Murzeki). Masuk arena berpasangan dengan Ujang. Biasa namanya Datuk memang suka sedikit bergaya. Ia bergaya dengan karet baru yang berbeda dengan biasaannya… Sudah dapat dibayangkan… Dua tiga kali terima service dan spin lawan, sulit diantisipasi Datuk. Akhirnya kalah…. “Datuk… Kalau sudah tua, jangan banyak gaya. Manfaatkan saja yang sudah ada… Jangan gonti-ganti. Termasuk Permaisuri”.

Di akhir acara, para maniak tenis meja P2Tel itu sepakat, untuk mencolek dan mengundang rekan-rekannya yang dulu, untuk bermain bersama, sekalian silaturrahim happy.