oleh

Ntumbu, Tradisi Ekstrim Unik Kebanggaan Wawo Bima

Ntumbu, adu kepala manusia

Daerah Garut Jawa Barat kesohor dengan atraksi adu domba, yaitu dua domba saling menabrakan kepala kepada lawannya. Namun bagaimana kalau yang diadu bukan kepala domba, tetapi kepala manusia?. Waduh serem bukan?

Daerah Wawo Kabupaten Bima ada atraksi ekstrim dan unik yaitu adu kepala manusia dalam Bahasa Bima disebut ‘Mpaa Ntumbu atau Ntumbu. Tradisi Ntumbu ini adalah tradisi adu kepala dua pria dewasa atau lebih. Dan hanya ditemkukan di desa Ntori kecamatan Wawo kabupaten Bima.

Ritual Ntumbu ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Berdasarkan cerita dari Sesepuh Desa Ntori Wawo, atraksi ini telah dipertontonkan di depan pembesar kerajaan sejak abat ke 17 masehi. Awalnya, ada seorang prajurit kerajaan berasal dari desa Ntori bernama Hamid. Saat perang, senjata pasukan kerajaan dirampas oleh musuh. Hamid dengan jiwa pemberani tanpa memiliki senjata mengajak pasukan lainnya untuk menyerang dengan cara menyeruduk dan menabrakan kepala ke arah perut dan kepala musuh. Alhasil, dari perlawanan dengan cara aneh ini sehingaa musuh kewalahan dan sempoyongan kocal kacir. .

Di Desa Ntori, Ntumbu ini awalnya diwariskan turun temurun oleh satu keluarga atau keturunannya saja. Dan jarang bisa dimainkan oleh orang lain di luar lingkungan keluarga. Tetapi sekarang telah banyak murid-murid dari desa lain di Wawo yang ikut belajar, misalnya Yusuf Sabi dari Desa Pesa, bahkan dia telah berada di tingkat pendamping guru. Belum lama ini guru besarnya bernama Kasyim alias Keso menutup usia (Maret 2020), dan posisinya digantikan oleh anaknya bernama Mudin.

Description: https://4.bp.blogspot.com/-E_GR_RES8zQ/UiJT1u-UTtI/AAAAAAAAA1w/7n9s58lVPpU/s400/kkk.jpg
Keso, Guru Besar Ntumbu, meninggal Maret 2020

Dulu ritual ‘Ntumbu’ ini biasanya hanya diatraksikan untuk menghibur saat acara pernikahan atau khitanan dan menjadi identik dengan Desa Ntori. Namun belakangan ini sering dipentaskan di luar Bima, dan juga dimanfaatkan untuk penyambutan tamu yang berkunjung ke Uma Lengge Wawo,

Atraksi kesenian tradisional Bima, umumnya didominasi atraksi ketangkasan, yang menggambarkan semangat patriotisme kepahawanan. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan alat-alat ketangkasan dan perlengkapan perang seperti pedang, tombak, keris dan lain-lain. Aksi Ntumbu diiringi alunan musik tradisonal Bima yaitu Dua Buah Gendang, Satu Silu, Gong, dan Tawa-tawa. Ketika musik dimainkan, beberapa orang mulai masuk arena untuk berlaga seperti gaya pencak silat saling menyerang. Cuma bedanya, kalau Ntumbu menyerang dengan menabrak dan membenturkan kepala ke kepala lawannya.

Untuk ritual ini, akan dipilih dua orang pemain atau lebih, sebagai penyerang dan bertahan. Dalam bahasa Bimanya (sarunden mancora, sarunden ma te’e). Pemain bertahan (te’e) dengan sikap kuda-kuda tetap berada di posisinya untuk menunggu serangan. Sementara penyerang berjoget-joget sesuai irama gendang berancang-ancang dari kejauhan lalu lari menabrakan kepalanya ke kepala pemain bertahan, dan begitu sebaliknya. Sebelum diserang, pemain bertahan akan terlebih dahulu memberi isyarat dengan mengangkat jempol sebagai tanda bahwa dia sudah siap diserang. Kalau tidak, akan berresiko bagi pemain bertahan yaitu jatuh ambruk .  

Atraksi ini diiringi alunan musik tradisonal, yaitu dua buah gendang, satu silu, gong, dan tawa-tawa. Ketika musik dimainkan, beberapa orang mulai masuk arena laga seperti gaya pencak silat. Kemudian pemain diatur, ada sebagai penyerang dan bertahan. Bertalu-talunya tabuhan gendang yang keras dan  bunyi ‘Silu’ yang meliung-liung serta sorak-sorainya penonton akan menambah panasnya suasana, sehingga pemain berusaha menubruk lawannya hingga jatuh. Ritual ini dipimpin dan diawasi Sang Guru atau ‘Sando’ yang dipercaya oleh Guru untuk bertugas sebagai wasit. Dalam atraksi ini tidak ada istilah menang-kalah yang menimbulkan dendam atau sakit hati. ‘Silu’ adalah alat musik yang terbuat dari kayu dan daun lontar. Kalau di daerah Minang dikenal saluang.

Peniup Silu

Bukti bahwa ritual ini benar-benar dilakukan, terdengar jelas suara benturan kepala dari para pemain. Meski kerasnya benturan, namun tidak ada peserta Ntumbu yang kesakitan atau benjol apalagi berdarah, karena efek kebal dari mantera yang dirapal dan diucapkan oleh gurunya melalui air doa. Sebelum bertarung, sang guru meminta kepada pemain untuk berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khaliq sehingga mereka selamat dan tidak takut untuk melakukan atraksi Ntumbu.

Berani menyaksikan ritual ini?. Berkunjunglah ke Wawo Bima NTB, dari Pulau Lombok menuju Sumbawa. Atau penerbangan dari Bali atau Lombok tujuan Bima dua kali sehari. Dan dari Bandara Sultan Salahudin Bima menuju Wawo kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan taksi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.