oleh

Cengang Mengenaskan…! Kyai dan ‘Jema’ah Masjid’ Pingsan Ditempelengi Setan

Jakarta-News. Menjelang Magrib, sedang ramai-ramainya jamaah menuju suatu Masjid, dikagetkan teriakan seorang jemaah ‘ada pencuri yang bawa lari kotak amal’. Ia berteriak sambil menunjuk ke arah rumah tua di bawah pohon beringin seberang kali.  Sontak para Jemaah mengejar menuju rumah tua yang dikenal angker oleh masyarakat setempat. Mereka kompak menyebrang kali untuk menangkap pencuri sehingga lupa mengumandangkan adzan magrib di masjidnya.

Tekad mereka, “tidak boleh membiarkan pencuri sialan itu, dia harus ditangkap untuk diadili“, kata mereka saling sahut-menyahut menuju rumah angker yang dipenuhi semak-semak dan dua pohon besar itu.

Mendekati tempat itu, mulai tercium aroma bunga melati. Semakin dekat semakin menyengat aromanya. Apalagi konon kabarnya, tempat itu sering ada penampakan sosok wanita yang melayang-layang mengitari. Penampakannya sering ditemui warga diselingi tertawa cekikikan. Namun kali ini mereka tidak pedulikan cerita mistik itu, karena ada Pak Haji yang menemani. Tekadnya hanya ingin menangkap maling sialan itu.

Aroma melati kian kental menusuk hidung, terasa bulu kuduk meresponi suasana cekam. “Allahu Akbar” pekik Pak Haji memecahkan suasana memasuki area sambil berucap “jangan coba-coba kamu ngumpet, tampakkan dirimu, wahai maling sialan,” pekik Pak Haji.

Di sela pepohonan rimbun muncul wanita tua sambil melambung-lambung mengintari, dan berkata, “kenapa kali ini kalian tidak Kumandangkan adzan di masjid, padahal bangsaku sudah bersiap-siap menutup telinganya dan lari terbirit-birit ke tempat-tempat persembunyian menghindari adzan kalian” kata wanita tua yang wajahnya ditutupi rambut panjangnya.

Kami mau menangkap pencuri” sergah Pak Haji tegas. “Tidak bisa… Dia cari perlindungan di rumah kami… Oleh karena itu wajib kami lindungi,” jawab wanita tua itu sambil tertawa kikik….

Setan terkutuk…! kamu makluk terkutuk jangan membela bandit terkutuk” sergah Pak Haji. “Kamu lebih terkutuk dan kalian semua terkutuk…” jawab setan, lagi-lagi ledekin dengan tawa cekikikan.

Aroma melati terus menyengat hidung, membuat bulu roma berdri. “Kalau kamu bandel, maka kami akan bacakan ayat-ayat Allah, biar kamu hangus terbakar,” ancam Pak Haji. Lalu ayat kursi dan ayat-ayat lainnya dibaca oleh mereka. Ayat-ayat yang dibacakan itu, justru ditiru oleh setan dengan sangat fasih. 

Pak Haji marah sambil berucap “hay kaparat.. Kenapa kamu tidak mempan dengan ayat-ayat Allah yang kami baca?,” tanya Pak Haji dongkol. “Hiiihiiiii…… karena bacaan kalian hanya menghiasi bibirmu. Tiap hari kamu baca berjuz-juz Quran, tidak ada sedikit pun yang terselip dalam hati kalian” ungkap wanita yang kini duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya pada dahan pohon sambil merendahkan Pak Haji dan jema’ah lainnya.

Apa maksudmu, setan busuk?“, bentak Pak Haji semakin mangkel. “Aku kasih tahu bahwa pencuri kotak amal itu anak yatim. Bahkan belum lama ini ibunya meninggal, sehingga dia menjadi piatu. Tanah kubur ibunya masih basah. Lalu kini kalian datang untuk mengambil dan mau menyiksanya?, tanya wanita tua itu dengan tegas menolak permintaan Pak Haji. “Bagaimana bisa penderitaan anak itu, luput dari perhatian kalian?” sambung wanita itu sengaja menampar muka Pak Haji dan jemaahnya.

Dengan jawaban setan yang kritis itu, mereka terdiam. Hanya Pak Haji yang masih memperlihatkan kejengkelannya sambil berkata. “Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri dong..,!” kata Pak Haji mempertahankan argumennya.

Setiap hari Jum’at kalian mengumumkan kas masjid ratusan juta melalui pengeras suara. Sementara anak-anak yatim di sekitarmu kelaparan. Lalu ke mana hati nurani kalian?. Kenapa kalian pentingkan pembangunan, sementara ada yang merintih kelaparan karena miskin, kalian abaikan?” papar wanita tua itu dengan tegas.

Masjid kalian megah dan nyaman, tapi Allah yang kalian sembah menderita kelaparan dan kehausan, sedang kalian tidak peduli,” jawab setan tua itu. “Kurang ngajar… Beraninya kamu merendahkan Tuhan kami Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan?” sergah Pak Haji marah sambil menunjuk kearah setan itu, hingga tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangannya.

Bukankah dalam setiap jiwa yang menderita (kelaparan dan kehausan), Allah begitu dekat dengannya. Apa kalian tidak punya nurani?. Padahal uang umat yang kalian banga-bangakan itu harus dipergunakan untuk umat?” tegas wanita tua itu kembali cekikikan ngeledek.

Penegasan setan itu, membuat hati Pak Haji menunduk malu. Ia pun teringat, saat dulu… di pondok pesantren kerap mendengar hadits qudsi tentang itu, yang sekarang ia lupakan.

Lama Pak Haji menunduk dan menyesal. Sementara bau melati semakin tidak wajar, bikin pusing dan mual, sehingga beberapa orang yang tidak tahan, lemas dan pingsan. Dan Pak Haji pun ikut pingsan.

Pak, pak… bangun…., sudah mahrib,” Ibu Haji membangunkan suaminya yang tertidur pules. “Astagfirullah” ucapnya lalu buru-buru siap ke masjid dan kotak amal pun dilihatnya, dan ternyata masih ada.

Mimpi itu sangat mempengaruhi Sang Haji, terus mengiang di benaknya. Usai sholat magrib, ia menceritakan hal ikhwal mimpinya kepada para jamaah, dan memintanya untuk membuka kotak amal, lalu ia pun menambahkan sejumlah uang untuk dibelikan sembako guna dibagikan kepada anak yatim dalam mimpinya.

Esok harinya ia buru-buru membeli sembako dan ditemani oleh beberapa jema’ah, lalu mendatangi rumah anak yatim tersebut. Pak Haji mengangkat sekarung beras lalu dipikulnya. Melihat hal itu, para Jemaah hendak melarangnya. “Biarkan kami saja yang membopongnya” tutur mereka. Tapi Pak Haji menolak sambil berkata. “Ini adalah kelalaian saya, (membiarkan) anak yatim menderita kelaparan. Oleh karena itu, saya harus memikulnya sendiri,” jawabnya.

Sesampainya di pinggir sungai tempat gubuk reyot itu berada. Pak Haji dan Jemaahnya buru-buru menyampaikan salam ingin segera ketemu dengan penghuninya. Tetapi salam mereka tidak ada jawaban dari dalam gubuk. Mereka pun mengulanginya beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban apa-apa. Karena tidak ada respon, lalu mereka menyepakati untuk membuka pintunya.

Subhanallah….! Apa yang mereka saksikan?. Mereka tertegun meneteskan air mata, menyesali diri, menyaksikan bahwa, Anak Yatim itu telah terbujur kaku di atas sajadah lusuhnya, sambil memegangi perutnya, mungkin karena terlalu lapar. Di depannya ada Al Qur’an yang masih terbuka, mungkin sedang ia baca.

Inna lillaahi wa innailaihi raaji’uuun, kekasih Allah itu menemui Sang Khaliqnya, tentu dalam keadaan husnul khatimah. Walau di dunia, ia sangat menderita. Tetapi penderitaan dunia tidak lah artinya dibandingkan penderitaan akhirat karena lalai dan ingkar.