oleh

KUDA TERPEROSOK DAN JATUH KE DALAM SUMUR YANG SANGAT DALAM

Rimpu (pakaian) Tradisi Daerah Bima

Seorang teman menawarkan kepada wartawan, “saya punya kisah tentang makna hidup yang kerap dialami oleh manausia. Mau nggak,” tanyanya. “Mau banget,” jawab wartawan.

Sebentar, katanya. “Guna  melancarkan urat-urat berpikir, saya harus sambil Nyirih,” tuturnya. Ia pun minta izin untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa segepok daun sirih segar, dan beberapa buah pinang muda serta kapur yang biasa untuk Nyirih.

Kata dia…., “agar inspirasi Moncer, saya harus Nyirih,” tuturnya. “Bagus lah,” jawab penulis. Sementara teman-temannya (ibu-ibu) lainnya bersamanya hanya senyum-senyum simpul.

Sambil memperbaiki posisi duduknya dan mempersilakan kepada teman-temannya untuk Nyirih, ia bilang “Biasalah Bang…, Inang-inang di sini, kalau sudah tua selalu akrab dengan barang ini…, dan sudah menjadi tradisi,” ungkapnya sambil menunjuk daun sirih Cs, yang ada di depannya.

Setelah bibirnya merah oleh air Nyirih. Ia pun memenuhi janjinya dan berkisah. Disuatu daerah, ada seekor kuda terperosok dan jatuh ke dalam sumur yang cukup dalam. Dan oleh masyarakat setempat diupayakan untuk menolong dan mengeluarkan kuda tersebut. Lama mereka lakukan, namun karena peralatan terbatas dan masih sangat tradisional, sehingga mustahil bisa selamatkan kuda tersebut. Oleh karena itu mereka memutuskan walau dengan perasaan sedih dan kasihan. “Karena tidak ada alternatif lain, maka terpaksa sumur ini kita timbun, dan kuda akan terkubur hidup-hidup,” kata yang dituakan dalam desa tersebut. “kita mengubur dan menimbunnya, untuk menghindari bau dari bangkainya tersebut,” tegasnya. Lalu merekapun ramai-ramai menimbunnya dan memasukan ke dalam sumur.

Lalu apa yang terjadi ?. Setiap ada tanah urugan yang mengena punggungnya, kuda itu selalu membuangnya dengan menggerakan badannya sehingga tanahnya jatuh, lalu memindahkan kakinya ke atas tanah urugan tersebut.

Semakin tinggi tanah menutupi sumur, maka semakin tinggi pula posisi kuda itu. Sehingga akhirnya ia bisa keluar dari sumur dengan selamat.

Apa maknanya ?. Sambil ia menyeka air merah di ujung bibinya ia melanjutkan… “Begitulah gambaran dalam hidup ini. Ketika mendapatkan beban dan masalah, maka kesampingkanlah, dan tetaplah berdiri dengan kokoh, karena suatu saat, hal itu akan mengangkat martabat dan derajat kita ke tempat yang terhormat,” terangnya.

Makna kedua, “ketika orang meremehkanmu, menghinamu, bahkan berusaha menjatuhkan dan mencelakaimu… justru upaya itu akan berbalik memberi keberuntungan kepadamu, karena konsisten dan gigihmu untuk terus berjuang, bertahan dan pantang menyerah,” pungkasnya.