oleh

Keunikan ‘Uma Lengge’ Sebagai Destinasi Wisata Kabupaten Bima

Menumbuk padi secara tradisional
Proses pembuatan kain tradisional Wawo

Kabupaten Bima berada paling timur Pulau Sumbawa. Letaknya secara geografis, (utara) berbatasan dengan Laut Flores utara, (timur) berbatasan Selat Sape, (selatan) berbatasan dengan Samudera Indonesia, dan (barat) berbatasan dengan Kabupaten Dompu. Secara topografis daerah Bima terdapat banyak pengunungan diantaranya Gunung Tambora, Gunung Sangiang, Gunung Soromandi, Gunung Doro Na’e, Gunung Lambitu dll, sehingga sekitar 32 persen wilayah Kabupaten Bima tergolong morfologi perbukitan dan pegunungan.

Daerah Wawo salah satu daerah pegunungan, berada di atas ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Dalam tulisan ini akan disajikan secara bersambung tentang ragam budaya dan keunikan adat istiadat Wawo merupakan warisan nenek moyang menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke daerah Wawo. Warisan leluhur yang unik salah satunya adalah Uma Lengge.

Filosofis Uma Lengge. Uma Lengge adalah Rumah Adat tradisional peninggalan nenek moyang Suku Wawo sejak abad Ke-VIII masehi. Fungsinya sebagai tempat penyimpanan bahan makanan pokok berupa, palawija dll, untuk kebutuhan pangan selama satu tahun. Uma Lengge berbentuk panggung model huruf A yang terdiri atas 3 lantai. Penempatannya terpisah dari rumah tinggal penduduk. Tujuannya untuk menghindari atau meminimalisir resiko kerugian akibat bencana seperti kebakaran, angin topan atau bencana lainnya. Dengan pertimbangan secara kearifan lokal, jika terjadi musibah (rumah) tempat tinggal terbakar, maka bahan makanan pokok yang disimpan di Uma Lengge tidak ikut terbakar atau sebaliknya. Oleh karena itu kompleks Uma Lengge di Desa Maria Wawo dibangun agak jauh dari pemukiman penduduk. Uma Lengge sebagai strategi pengamanan logistik bukanlah tanpa alasan, mengingat lahan pertanian Wawo umumnya bertadah hujan, sehingga produksinya hanya empat bulan dalam setahun. Untuk mensiasati ketersediaan dan ketahanan pangan, sehingga hidup nilai-nilai religis dalam masyarakat tentang hidup hemat, mencintai alam, kerja sama dan gotong royong, hidup berkesinambungan.

Arsitektur Bangunan Uma Lengge. Uma Lengge awalnya adalah rumah tradisional dibuat hanya berdasarkan fungsi belaka. Kemudian setelah masyarkatnya mengenal kebudayaan, terjadilah perubahan-perubahan yang dipengaruhi nilai religi, budaya dan kreasi masyarakat. Bentuk Uma Lengge adalah rumah panggung seperti huruf A, tidak terlalu besar dan tidak terlalu luas. Secara umum, struktur Uma Lengge berbentuk kerucut setinggi kurang lebih 6-7 meter, bertiang empat, beratap alang-alang yang menutupi tiga per empat dari bagian rumah sekaligus sebagai dinding. Pintu Uma Lengge berada di bawah bagian depan. Bagian atap rumah, ada atap rumah, dalam istilah setempat disebut ‘mbutu’ terbuat dari daun alang-alang, sedangkan langit-langit atau ‘taja uma’ terbuat dari bahan kayu, begitu pula lantai tempat tinggal dan tiang penyangga lainnya terbuat dari kayu jati atau kayu dari pohon kelapa.

Bentuk Uma Lengge Secara Keseluruhan

Rincian Bentuk Uma Lengge; Tiang Uma Lengge ada empat, dan diapit oleh beberapa kayu seperti: ‘Nggapi’ (penjepit), sebagai pemegang antara tiang yang satu dengan tiang lainnya sehingga Uma Lengge bisa berdiri dengan tegak; Kemudian Ceko, sebagai pemegang tiang dan nggapi; Kemudian ujung ceko dipasang pasak. Untuk menghindari tikus dipasang ‘Lampu’ yaitu kayu segi empat yang halus dan licin. Gunanya sebagai penghalang tikus agar tidak bisa naik ke lantai atas; Kemudian ‘Pali’ yaitu batu atau balok persegi yang dipasang di ujung bawah tiang. Fungsinya agar ujung tiang tidak terkena air dan tidak termakan rayap. Kemudian, ‘Ncai’ yaitu pintu Uma Lengge dengan ukuran, tinggi 1 meter, lebar 60 CM. Letaknya di sisi tengah bagian depan Uma Lengge dan tidak memiliki ventilasi atau jendela. Adapun tinggi dari Uma Lengge sekitar 7 meter, terdiri dari 3 lantai. Lantai-I,tidak memiliki dinding, berfungsi sebagai ruang tamu serba guna, misalnya untuk kegiatan acara adat, tempat untuk menenun kain bagi perempuan dll; Lantai-II, untuk menyimpan padi dalam bentuk karung, sedangkan Lantai-III, untuk menyimpan padi, palawija atau jagung dalam bentuk ikat.

Pintu terbuka untuk semua wisatawan……

Isyarat ‘Sandi’ Daun Pintu Uma Lengge. Jika daun pintu lantai pertama dan kedua ditutup, menunjukan bahwa pemiliknya sedang berpergian tetapi tidak jauh. Jika ketiga pintu tertutup, berarti pemiliknya sedang berpergian jauh dalam tempo yang relatif lama. Hal demikian merupakan pelajaran bahwa meninggalkan rumah meski tanpa pesan, tetangga atau orang lain langsung faham dengan isyarat daun pintu tersebut.

Seiring dengan perubahan zaman, Uma Lengge sudah ada yang dirombak sesuai era zaman. Atapnya sebagian diganti dengan seng. Keberadaan Uma lengge di Kecamatan Wawo menjadi salah satu obyek wisata budaya Kabupaten Bima. Banyak wisatawan manca negara yang berkunjung untuk melihat dan meneliti tentang sejarah Uma Lengge.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.