oleh

Kembali ke Dapur Kuyup atau Kian Seksi sebagai Bupati Bima?

Karena Pesona mulai pudar, Lekukan Body tidak lagi memikat, Kebijakan yang kerap menuai kontra produktif, maka satu-satunya cara bagi petahana untuk menyelamatkan kursi empuk Bupati Bima adalah dengan ‘Jurus Dewa mabok. Apa itu Jurus Dewa Mabok?. Dalam dunia persilatan Cina, Jurus Dewa Mabuk adalah jurus akrobatis dalam keadaan mabuk (sembari) memainkan gelas anggur untuk memberikan sinyal bahwa akrobatiknya bisa melibas dan menang.

Dalam upayanya itu, Jurus Akrobatik Dewa Mabok sedang dimainkan oleh  petahana, terutama dalam menjegal kandidat lainnya, dengan cara menggaet dan mendominasi partai politik dengan bayaran yang fantastis, sehingga para kandidat lainnya dehidrasi karena tidak kebagian tetesan air dari partai politik.

Akrobatik lainnya yang dilakukan petahana adalah menekan dan mengancam bawahannya, terutama para pejabat dengan suatu target… Jika tidak berhasil maka, gelas anggur di tangan akan berbicara menentukan nasib mereka. Dalam kondisi tertekan seperti itu, sudah dapat dibayangkan bagaimana pucat pasi dan ketar ketirnya mereka, terutama para penjilat yang telah memangku jabatan sekian lama, tentu akan grasa-grusu tanpa pola menemui keluarga, kolega, kerabat, dan orang-orang yang bisa terpengaruh dengan sebatang rokok dan omongan manis, setelah itu mereka menghilang.

Dengan Jurus Dewa Mabuk ini petahana berharap… Tidak ada lagi calon potensial yang bisa mendapatkan kendaraan politik melalui jalur partai, sehingga ia hanya bersaing dengan sepasang calon independen yang  menurutnya gampang dikalahkan. Bisakah Bidadari asal Dompu ini mulus sesuai slogannyaLanjut dua periode?.

Menarik untuk dibahas. Sah untuk diperbincangkan. Bebas untuk berpendapat,  dengan metode suka-suka… Karena catatan pojok seorang wartawan akan disajikan secara ‘suka-suka’ pula. Begitu juga bagi yang lain bisa dengan gaya suka-suka menolaknya.

Boleh saja petahana menjegal lawan-lawannya dengan cara menguasai partai politik, sehingga bisa ketawa dan berekspresi bebas laksana Ken Dedes saat  dipersunting Tunggul Ametung. Tetapi Ken Dedes pun akhirnya kecewa dengan kelicikan Ken Arok yang menghabisi Tunggul Ametung suaminya. Namun Ken Arok berhasil memenuhi ambisinya mempersunting Janda cantik Ken Dedes menjadi permaisurinya.

Efek Akrobatik Dewa Mabuk.

Jika nanti KPU menetapkan sesuai harapan petahana, hanya ada dua pasang calon yang bersaing dalam pemilihan bupati Bima 2020-2025 yaitu petahana dan independen, maka timbul suatu pertanyaan, apakah kandidat yang merasa terjegal akan berpihak?. Dan kemana mereka berpihak?.

Dari latar-belakang para kandidat yang rata-rata berintegritas dan berorientasi ingin memajukan Bima, yang selama ini dinilainya stag, maka sudah dapat dipredeksi bahwa para kandidat yang tidak lolos itu akan berpihak. Apalagi slogan-slogan sensual kerap terdengar didengungkan oleh para tim sukses mereka, antara lain: Apakah tidak ada orang pintar di Bima, sampai mengimport orang dari daerah lain untuk menjadi bupati?; Gengsi dong…, masa’ orang intelek dan terpelajar dipimpin oleh ibu rumah tangga…!, dan banyak lagi slogan-slogan sexi lainnya yang beredar.

Petahana Berhasil Membangun Dinasti Kekuasaan

Kenyataan petahana telah berhasil membangun dinasti kekuasaan di Kabupaten Bima, akan menjadi titik tolak perlawanan dari para intelektual dan para kandidat lainnya. Hal ini sulit dibantah, dengan tampilnya anak kandung petahana yang bernama Muhammad Ferryandi menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bima periode (2019-2024). Apalagi hadirnya penjilat-penjilat dungu yang menari-nari di hadapan petahana dengan menggembar-gemborkan, bahwa Ferriyandi adalah Bupati Bima berikutnya (pengganti) Indah Dhamayanti Putri (Ibunya).

Ulah bodoh penjilat yang over acting ini, tentu berdampak negative terhadap petahana yang tengah berjuang untuk mengamankan kursinya dalam periode (2020-2025). Kalau saja kedunguan itu tidak diantisipasi secara cermat, tentu akan menjadi bola liar yang dapat merobek gawangnya sendiri.

Bagaimana Dengan Calon Independen ?

Karena disepelekan dan dianggap sebelah mata petahana, maka calon independen telah menjadi api dalam sekam. Ia memikat dan memakan secara perlahan dari dalam. Mereka telah lebih hulu melakukan sosialisasi melalui mengumpulkan KTP. Tentu untuk mendapatkan setiap KTP, walaupun akan dibantah oleh mereka, tetapi sudah dapat dipastikan terdapat bentuk terima kasih yang dapat memikat hati masyarakat. Strategi ini pernah dilakukan oleh calon independen pada pilbub Bima 2016, dan mereka menang mutlak di daerah tertentu. Mungkinkah para kandidat gagal yang orientasi sama akan mendukung independen?. Kita tunggu tanggal mainnya.

Efek Malakama, Akrobatik Dewa Mabuk.

Mengenai pola pemaksaan dan ancaman terhadap para pejabatnya di Pemkab Bima, maka dengan sendirinya akan terjadi polarisasi kelompok antara barisan terpinggirkan dan kelompok penjilat. Barisan terpinggirkan kelihatan pasif, tapi giat dengan gerakan senyap untuk menebarkan pengaruhnya terutama terhadap keluarga dan koleganya, hingga reputasi petahana bisa tergerus.

Sementara kelompok penjilat, intens mengintai, memata-matai  guna mendapatkan informasi yang akan dilaporkan kepada Mami. Meraka akan bangga dengan laporan AMS (Asal Mami Senang) walau dengan cara dusta dan ghibah. Sepak terjang mereka ini kerap memuakkan banyak orang, terutama para pegawai di tingkat kecamatan.

Dulu disebuah kecamatan di Kabupaten Bima, ada si penjilat memalak kepala sekolah masing-masing Rp250 ribu, dengan alasan tidak masuk akal “untuk menambah biaya pelantikan bupati terpilih”. Belum hilang dalam ingatan ulah liciknya yang mengatas-namakan bupati itu, ia lagi-lagi berulah pada saat kecamatan tempatnya ia berdomisili ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara MQ tingkat kabupaten. Lalu dengan langkah seribu si penjilat itu memanfaatkan moment dan memaksa bendahara gaji kecamatan untuk memotong ganji para pegawai yang ada di kecamatan tersebut masing-masing sebesar Rp 70 ribu, dengan alasan untuk membantu biaya MQ. Padahal orang tahu biaya MQ sudah dianggarkan melalui APBD Kabupaten Bima.

Senyum Manis Untuk Para Kades

Kepala desa adalah Pasukan Infantri-nya Jurus Dewa Mabuk. Sebagai pasukan sapu jagat mereka diundang dan dimanja dengan ‘sapa pesona dan dijeksi dengan asupan nutrisi’, sehingga sigap mengamankan teritori. Setelah terpuaskan harapan dan impian indahnya, mereka bubar dan melangkah keluar dari ruangan pertemuan dengan  senyum sumringah, apalagi dalam benaknya terbayang dana bantuan desa akan segera cair, ditambah lagi impian akan dinaikan bantuan desa setelah kemenangan nanti.

Deposit Bagi Petahana

Di Bima itu ada sekelompok masyarakat yang menganggap bahwa, keluarga kerajaan adalah orang yang mempunyai kesaktian yang harus ditaati. Oleh karena itu mereka patuh dan tidak terpengaruh oleh propaganda politik masa kini. Umumnya kelompok ini terdiri dari orang-orang tua sepuh yang tinggal di pedalaman dan daerah-daerah yang jauh dari perkotaan. Dan jumlah mereka pun masih lumayan dan menjadi pendukung fanatik bagi petahana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.