oleh

Kadal Senewen Di Tanah Bima

          
Itu negeri sejuta janji… Dasarnya slogan. Kebijakannya pamflet…. Pejabatnya pemalas dan tukang buat alasan…. Ditambah rakyatnya ngegosip dan ‘ngerumor…..’, lengkap satu paket sebagai negeri ‘halusinasi’. Nyaman  di tengah kebisingan kalimat-kalimat liris…. Massal terjangkit megalomania….. Nikmat berkelana dalam impian….. Di tengah kekacauan hidup nyata…… 

Dari Orde Lama sampai Orde Reformasi tak banyak berubah, sejak dulu saya selalu mendengar rakyat akan sejahtera, pendidikan murah, pengangguran nihil, pekerjaan gampang, hidup ayem tentrem karta raharja. Persis gambaran zaman Kalasuba yang disuratkan Jangka Jayabaya”. Demikian budayawan Joko Suud mengeluhkan keadaan.

Kata-kata klise itu diulang-ulang keluar dari mulut para pemimpin atau calon pemimpin yang sedang ramai dan hangat di Negeri ‘Senewen’ Kabupaten Bima. Pemerintahan bersih.., jabatan yang amanah.., anti korupsi janji aksioma…. Kata-kata indah itu meluncur ringan dari bibir berbeda-beda, tapi nada, diksi, narasi aksentuasinya sama…. Mulut itu membeo. Robot terprogram, programernya jabatan dan kekuasaan.

Tapi apa tindakan di balik keluhuran kata itu? Hampir semuanya dusta. Baik yang tampilannya santun, dermawan, dan agamis maupun koboy. Negeri itu memang sudah terjangkit virus dusta paling akut.

Lihat kabar yang tersebar saban hari. Kedustaan terjadi di mana-mana. Pejabat atau wakil rakyat sama saja. Penegak hukum atau korban hukum melakukan langkah serupa. Menyogok atau disogok. Mereka pakar penilep uang rakyat, yang membuat kita sering memakai idiom mereka, uang dengar, uang tutup mulut, uang kerohiman, yang konotasinya adalah komisi atau dana kutip.

Virus itu merambah seluruh sektor…. Tak terasa kita jadi piawai…. Menjadi jagoan ngadali dan ngakali. Kadal bertemu kadal beranak kadal, dan entah berapa generasi lagi negeri itu bisa sama kata dan tindak, bisa beriman sebetul-betul iman pada Tuhan. Sebab semuanya ramai-ramai mencari kesempatan untuk melakukan kebobrokan itu.

Keberadaan Inspektorat atau Satgas Mafia ternyata tidak mematikan virus itu. Malah virus ini kian cerdas untuk jadi kadal sejati. Rekrut tenaga kontrak untuk Pol-PP dipalak hingga puluhan juta rupiah. Setelah masa kontrak sekian tahun mereka dicampakan. Kalau mau diperpanjang kembali harus membayar sekian juta lagi.

Bantuan pusat untuk petani dikadali juga. Kelompok tani dibentuk, dan disuruh buka rekening untuk menerima dana bantuan. Setelah kelompok tani terima tranfer, lalu uangnya diminta kembali oleh kadal, dan yang diberikan kepada petani tidak sampai 5 porsen.

Kadal tidak mau lagi pegang untuk menjadi pimpinan proyek atau bagian pembelian yang selama ini ‘ladang kutip’, tetapi negosiasi siluman korupsi yang aman. Sosialisasi program digalakkan, dan dari sini istilah belah durian diberdayakan. Gol, hasilnya dibagi dua.

Virus itu sudah memasuki aliran darah. Otak dan rasa sudah terkontaminasi. Kemanusiaan dan keyakinan tak mampu mencegahnya untuk berhenti. Malah mayoritas berasumsi ibadah pada Tuhan wajib, tetapi maksiat jalan terus. Tindakan jelek dianggap maqom manusia. Dan kejelekan itu seluruh atau sebagian ditimpakan pada setan yang pekerjaannya memang menggoda. Makin tahun warga yang waras makin sedikit.

Kalau ingin memanusiakan manusia, rakyat papa yang mayoritas menghuni negeri ini adalah prioritas yang layak diberdayakan. Bukan koruptor, perampok, maling yang menipu, memeras dan menista rakyat jelata. Memiskinkan dan membodohkan rakyat adalah tindakan barbar. Manusiawikah memanusiakan ‘mantan barbarik’ ketimbang memanusiakan rakyat yang kelaparan?. Itu memang negeri senewen. Di negeri itu semua orang bicara kebaikan, tetapi penguasanya justru berbuat tidak baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 komentar

  1. Wowwwwww

    Pasti banyak yg tergelitik atau kah terketuk yaa…..
    Hahahyyyyy…………
    Judulnya kadal dan membahas kadal yg beranak buaya.

    Adakah yg akan merubahnya

  2. Masya Allah ….. SMG tulisan ini dibaca oleh seluruh elemen masyarakat, baik yg ada di wil Bima, maupun yg berada diluar wil. Bima, agar kembali merenung atas semua kejadian yg terjadi dari tahun ke tahun, dari periode keriode, kembali para elit politik, para kandidat yg terlibat baik langsung maupun TDK langsung, selalu memberikan janji Surga pada masyarakat untuk meraih simpatik untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan melalui Pesta Demokrasi sekali dlm 5 thn ….. ironinya ketika semua impian itu diraihnya, bgt mudah melupan sumpah & janjinya, ibarat life servic (Gincu merah yg mudah dihapus), itulah realita yg terjadi selama ini, semoga tulisan yg berupa himbauan bahkan keritikan yg posting oleh salah satu ilmuan senior Bima yg trus berjuang diijantung kota (RI) Kota Metropolitan JKT, Demi Masa depan Bima yg Maju Mandiri & bermartabat pada saat serta waktu yg tepat dpt diwujudkan bukan hanya sebuah ilustrasi kiasan liwat Janji pemanis & pengghias bibir ntk meraih simpatik. Dlm meraih kekuasaan tetapi betul2 sumpah & janjinya dpt diimplementasikan ditengah kehidupan secara riil, sehingga masyarakat disemua kalangan dapat merasakan langsung alias bukan hanya mimpi yg menjadi hayalan tetapi betul2 menjadi kenyataan….. SMG postingan dari salah satu tokoh senior Bima ini dpt memberikan pemahaman, pengetahuan agar seluruh lapisan masyarakat baik di kota Bima/kab. Bima dpt mengambil hikmah positip dlm menentukan sikap ntk memilih figur yg tepat, demi perkembangan & kemajuan Bima sehingga kita semua menjadi Bangga sebagai masyarakat Bima dimanapun kita berada Aamiin…..