oleh

Jurus Pesona Sakti Dari Bupati, Dirusak Bawahannya Sendiri

.Sebagaimana cerita zaman dulu bahwa di Kerajaan Saba, ada seorang Ratu cantik jelita bernama Balqis atau Queen of Sheba, dandi Kerajaan Shingosari ada Ken Dedes, adalah wanita cantik menawan yang menjadi rebutan para lelaki saat itu. Kini di Bima ada seorang janda cantik sebagai pionir penyelenggara pemerintah di Kabupaten Bima bernama Indah Dhamayanti Putri. 

Bilqis sebagai Ratu cantik nan jelita, sangat disenangi dan dihormati oleh rakyatnya. Karena itu pula Nabi Sulaiman AS terpikat sehingga keduanya menikah. Ken Dedes pun demikian, karena cantiknya sehingga Raja Tunggul Ametung mempersuntingnya menjadi Ratu. Walau akhirnya Tunggul Ametung terbunuh oleh scenario Ken Angrok yang menjadi suami kedua Ken Dedes.

Indah Dhamayanti Putri adalah Bupati Bima, ia cantik dan dipercaya masyarakat Bima menjadi bupati periode (2016-2020). Lima tahun berjalan ia menjalankan roda pemerintahan di kabupaten ujung timur Pulau Sumbawa itu. Dengan plus-minus kemampuan yang dimiliki ia mencoba bertarung kembali guna mempertahankan kursi empuk untuk periode keduanya.

Dalam upayanya itu, berbagai propaganda dan pesona dimainkan demi memikat hati para pemilih. Di website Kabupaten Bima, berderet mentereng profil dan prestasi Indah Dhamayanti Putri. Mulai dari kelahiran, pengalaman hingga meneyelesaikan strata-1 nya di tahun 2018. Ia lahir di Kabupaten Dompu, 19 November 1981 (38 th) usianya, bertempat tinggal di Bima. Pendidikan formalnya; SD di Dompu, SMP di Mataram, PKBM-LPMP lulus 2005 dan kuliah di STIE Bima, lulus tahun 2018. Pengalaman lainnya; Pernah menjadi Ketua PKK Kabupaten Bima, pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bima dan sekarang menjadi Bupati Bima. Dalam berorganisasi; Pernah menjadi Ketua AMPG Partai Golkar, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Bima dan Penasihat GOW. Dengan sederet cv-nya itu, “masih harumkah pesonanya di masa datang?”. Masyarakat Kabupaten Bima lah yang menilai dan menjawabnya.

Pepatah lama mengatakan, tiada gading yang tak retak, dan tiada manusia yang sempurna. Dilihat dari masa pemerintahannya selama lima tahun ini, komentar masyarakat, umumnya mengatakan; Kemimpinan Indah Dhamayanti Putri tidak seindah nama dan parasnya, terutama berkaitan dengan kebijakan: Sebut saja dari sisi petani; Pada saat musim tanam, giliran masyarakat membutuhkan bibit dan pupuk, terjadi kelangkaan bibit dan pupuk dan kalaupun ada, harganya sangat mahal. Begitu pula di kalangan pegawai, kebijakan promosi dan demosi selalu dilandasi suka dan tidak suka. Skill dan kemampuan tergerus oleh lidahnya penjilat. Akibatnya harmonisasi sirna, dan terjadi persaingan tidak sehat di kalangan pegawai itu sendiri.

Kebijakan yang kontra produktif lainnya, berkaitan dengan kultur sosial kemasyarakatan Bima yang dikenal Islami. Di Pantai Wane berdiri banyak patung yang mencederai perasaan dan meresahkan masyarakat. Akibatnya timbul gelombang protes hingga Majelis Ulama Kabupaten Bima ikut angkat bicara (memprotesnya).

Belum lama ini, masyarakat Langgudu berdemo di depan kantor bupati, (menagih) janji bupati saat kampanye tahun 2016, yaitu pengaspalan jalan kabupaten di wilayah Langgudu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bima Ir.Nggempo yang diutus untuk menemui pendemo dengan lantang  melawan, “kami tidak punya dana untuk pengaspalan jalan. Anggarannya telah habis untuk penanggulangan Covid-19.” Tetapi entah kenapa, retoris nan gagah melawan tadi berubah menjadi letoy layu, sehingga memenuhi tuntutan masyarakat untuk pengaspalan jalan di wilayah Kecamatan Langgudu. Takut kehilangan suara ya Mas ?

Kenapa kalian harus lalai ?. Sebetulnya orang Bima, terutama kaum muda-nya gampang diatur, mereka penurut dan pekerja keras. Mereka sangat bangga dan optimis jika mempunyai aktifitas yang produktif. Mereka tidak malu untuk bekerja apa saja termasuk menjadi petani. Karena optimisnya itu jika pada musim tanam tiba, mereka berani berhutang kepada Bank dalam waktu berjangka (4) bulan dan setelah panen mereka akan lunasi hutangnya. Namun harapan indah itu hanyalah harapan, karena pemerintah kurang peduli.

Sudah merupakan masalah laten yang dihadapi petani Bima. Jika musim tanam tiba, mereka selalu dihadapkan dengan kesulitan untuk mendapatkan bibit dan pupuk, dan kalaupun ada harganya cukup mahal. Coba saja pemerintah hadir pada saat mereka butuh, tentu tidak ada lagi waktu bagi mereka berbuat negatif, karena mereka focus dengan urusan pertanian masing-masing.

Bukankah penyebab terjadinya kenakalan remaja dan kerawanan sosial karena efek dari tidak adanya aktifitas (menganggur)?. Kalau saja pemerintah peduli untuk memahami dan memfasilitasi kebutuhan petani, tentu kenakalan remaja dan kerawanan sosial akan dapat diminimalisir seminim mungkin, karena tenaga dan pemikiran masyarakat tercurah kepada aktifitasnya masing-masing. Tidak akan ada lagi tenaga lebih yang menjurus ke hal yang negative.

Arogan Tapi Dungu...! Ulah bodoh dan arogan dari aparat di Pemkab Bima dengan sendirinya dikenang oleh masyarakat, sehingga akan mempengaruhi kredibilitas sang bupati di mata rakyat. Bodoh dan arogannya aparat itu dialami sendiri oleh penulis, saat melaporkan sesuatu kasus melalui surat resmi ke Inspektorak Kabupaten Bima. Dari Kepala Inspektorat telah didisposisikan kepada bawahannya dan penulispun diarahkan untuk menemui seseorang yang bernama Muhtar.

Penulis pun menemui Muhtar di ruangannya. Mungkin karena penulis dianggapnya orang asing, maka ia berusaha beralibi (memperlihatkan) bahwa ia seorang penting di Inspektorat. “ada apa pak?” tanyanya. “saya disuruh temui bapak, berkaitan dengan laporan saya tentang kelakuan oknum pegawai Pemkab Bima yang telah merugikan keluarga saya” jawab penulis. “Oya.. ini suratnya Muhtar sambil nunjuki surat di mejanya. “cuma, laporan ini tidak bisa diproses, karena sesuai aturan, setiap ada laporan atau masalah harus lapor ke bupati sehingga bupati mengeluarkan Surat Perintah. Tanpa ada Surat Perintah, Non Sen” oceh Muhtar sambil mempermainkan rokok yang ada di tangannya.“Kok begitu.., kan sudah ada perintah dari atasan bapak untuk ditindak-lanjuti?” jawab penulis sedikit protes. “Bapak ini faham aturan nggak?. Kita tidak boleh melanggar aturan pak” jawabnya ketus sambil meninggalkan penulis di ruangannya.

Tidak beberapa lama Muhtar kembali lagi ke ruangan sambil mengebulkan asap rokoknya ke atas.  Penulis mencoba bertanya kembali saraya meminta maaf “dengan posisi bapak yang dipercaya sebagai pengawas dan pembina di Inspektorat ini, jika suatu waktu ada pegawai Pemkab Bima yang melakukan perbuatan melawan hukum di masyarakat, dengan tidak adanya Surat Perintah dari bupati, apakah anda membiarkah hal itu terjadi tanpa dicegah? tanya penulis protes. Mendapat pertanyaan demikian, muka si Muhtar yang tadinya petentang petenteng merah padam, memperlihatkan keterbatasan akalnya, sambil clengak-clinguk malu. Karena kecewa dengan pelayanan aparat bodoh macam itu, penulis pun meninggalkannya.

Dalam hati…, Kenapa orang bodoh yang tidak punya nalar kaya begitu ditempatkan di Inspektorat. Padahal Inspektorat itu tempatnya orang-orang pintar yang bertugas untuk membina, mencegah dan memeriksa pegawai yang bermasalah menjadi baik. Dan pegawai yang baik agar menjadi lebih baik ?.

Penulis langsung ingat yang pernah disampaikan beberapa kepala sekolah di Kabupaten Bima, bahwa banyak oknum di Inspektorat Kabupaten Bima, tujuannya memeriksa ke sekolah-sekolah hanya untuk mendapatkan uang dari para kepala sekolah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.