oleh

Iptu Makarau Al Wawo Bima, Nastapa Di Kampus Bersinar Di Tugas

Kisah seorang Iptu Makarau Al Wawo Bima.

Bersama sahabat-sahabat dari Timur

Disebuah desa dataran tinggi Bima yaitu di Ntori Wawo, sekitar 52 tahun silam persisnya 12-12-1968 lahir seorang anak yang diberi nama Makarau Al Wawo Al Bima. Ia terlahir dari keluarga petani yang hanya mengandalkan hasil kebun dan sawah untuk hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

Makarau bersekolah SD, SMP, di Wawo dan SMA di Kota Bima, kemudian melanjutkan sekolah di Mataram dengan suatu tujuan untuk mengangkat harkat keluarga, lalu ia mendaftar dan kuliah di Universitas 45 Mataram. Karena didera kesulitan ekonomi kuliah tersendat, dicobanya mengambil cuti, tetapi strategi itu tidak cukup mampu menyelamatkannya sehingga ia Drop-Out pada Smester-VII.

Dalam kondisi frustasi, galau, lontang lantung di Kota Mataram membuatnya depresi, apalagi teman-teman angkatannya telah mengenakan toga kebanggaan almamater. Bagi Makarau bersyukur ada secuil iman yang menyelamatkannya dari depresi dan putus asa. Bertepatan dengan itu, ada penerimaan Secaba Polri di Polwil NTB, lalu dicobanya mendaftar sekedar untuk menghibur hati yang galau karena terhenti kuliah apalagi uang tidak punya.  

Rupanya begitulah cara Allah menempa hambaNya untuk lebih dewasa dan selalu mengingatNya. Melihat wajah suram, depresi tidak memiliki uang, di situlah Tuhan menghadirkan dewa penolong pemberi motivasi, dengan lugas mengatakan “manusia tidak boleh berputus asa, Tuhan Maha Pengasih, dan mengasihi hambaNya yang mau berusaha” tegasnya. Dewa penolong yang telah menghidupkan semangat itu adalah AKBP Yahya Mukmin.

Semangat hidup terasa lahir kembali, galau depresi lenyap diterpa gelombang pantai Senggigi . Lalu kepada dewa penolong itu, diungkapkan semua hal ihwal problem hingga pendaftaran Secaba Polri. Dengan spontan dewa penolong itu berucap, “lupakan kampus dan fokus mengikuti test polisi. Mungkin jalur ini, disediakan Tuhan untukmu sehingga kamu sukses”, tegas dewa penolong itu.

Suntikan semangat dewa penolong, merupakan kekuatan baru yang tiada tara. Mondar mandir jalan kaki berpeluh keringat dan perut lapar untuk keperluan itu, semuanya terasa indah. Hingga tiba saatnya mengikuti test akademis dan smapta. Dalam melakukan itu semua, terasa ada kekuatan ghaib yang membimbing dan menuntun sehingga akhirnya ia lulus ujian Secaba.

Setelah pengumuman lulus dan penentuan tempat pendidikan, berangkatlah Makarau berpamitan seraya memohon doa dan ucapan terima kasih kepada dewa penolong karena akan diberangkatkan menuju pusat pendidikan SPN Lasikode Kupang NTT.

Selama pendidikan…, mental yang tadinya terpuruk telah terbina kembali, nestapa galau karena gagal kuliah sirna menguap, hingga akhirnya Makarau Al Wawo-Bima dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik pada tahun 1991, dan sepenuhnya menjadi anggota Polisi Republik Indonesia yang mendapatkan tugas di Polsek Atsabe Polres Ermera Timor Polwil Timor timur.

Penempatan anggota baru tentu didasari pertimbangan skill dan kemampuan. Pada saat itu daerah Atsabe tempatnya ia bertugas adalah daerah paling rawan kontak senjata di Timtim. Dan tiada hari tanpa desingan peluru, sehingga sudah ratusan anggota TNI gugur akibat kontak senjata yang tanpa henti tersebut.

Asrama yang ditempati Makarau dikelilingi hutan, dan hanya ada Pos pasukan TNI dan Kopasus yang tidak jauh darinya.  Insting dan kewaspadaan adalah sebagai perisai, senjata tidak boleh lepas dari pelukan. Telat makan dan kekurangan uang merupakan hiburan, karena suplai beras dan terima gaji terkadang 3 bulan sekali baru didapat (tergantung situasi). Untuk turun ke kota menggunakan truk dengan waktu tempuh satu hari perjalanan.

Setelah dua tahun bercanda dengan desingan peluru yang mengancam nyawa. Tiba saatnya Makarau untuk tersenyum lega karena pindah tugas menjadi Intel di Polda.  Ternyata senyum lega itu tidak berlangsung lama, karena cakupan tugas sebgai Intel Polda meliputi seluruh wilayan polda. Berarti dengan sendirinya bertambah berat dan luas.

Di bawah komando Kombes Hermanto dan Kombes Marsudianto, sekarang Karo OPS Polda Metro Jaya dan Irjen Pol Carlos Tewu, tiada hari tanpa jelajah menuju daerah rawan terutama daerah kontak senjata, sehingga seluruh wilayah Timtim dapat dijelajah di bawah ancaman peluru.

Empati Melahirkan Simpati

Strategi brilian dari para komandan yaitu berempati dan berhubungan baik dengan masyarakat Timtim dilaksanakan dengan jitu oleh anggota di lapangan sehingga lahirlah simpati dari masyarakat. Sebab pimpinan faham bahwa, kedekatan dengan masyarakat adalah kunci utama bagi anggota Bhayangkara, Oleh karena itu setiap anggota harus memahami psikologi masyarakat sehingga mereka merasa dekat dan terlindungi. Kalau sudah terjadi demikian tentu masyarakat akan memberikan informasi penting bagi TNI dan Polri. Sebagai contoh nyata tentang peristiwa tragis yang sulit dilupakan. Berkat informasi dari masyarakat sehingga dapat menggagalkan upaya penyerangan Kompi BrimobBairopite yang dilakukan oleh GPK.

Pilu Haru Oleh Referendum

Tahun 1999 terjadi referendum. Adalah hal yang paling menyakitkan secara psicologis. Daerah yang tadinya mati-matian dipertahankan harus lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi. Semua masyarakat Indonesia (pendatang) dan masyarakat Timtim (pro otonomi) harus hengkang dan keluar dari Timor Leste pada saat itu juga.

Anggota TNI dan Polri sibuk mengawal dan mengantar warga Indonesia menuju tempat pengungsian, guna menunggu armada angkutan untuk keluar dari Timor Leste. Sementara kondisi kota Dili tidak aman lagi dan terjadi kerusuhan dan pembakaran.

Dalam kondisi itu, istri tercintanya bernama Suryani sedang dalam keadaan hamil dan ditempat di pengungsian tanpa bisa didampingi karena tugas mengamankan masyarkat lain yang berjubel menunggu bantuan untuk keluar segera dari Timor Timur. 

Rasa jenuh selama satu pekan di lokasi pengungsian, datanglah kapal laut untuk membawa keluar masyarakat Indonesia menuju Lombok NTB, dan istri tercinta pun ikut bersama rombongan lainnya tanpa didampingi sang suami yang masih harus bertugas mengamankan warga Indonesia lainnya yang masih berada di Timur Leste.

Setelah semua masyarakat Indonesia dinyatakan sudah keluar dari Timor Leste, baru diadakan apel kebesaran penurunan Bendera Merah Putih yang dipimpin oleh Kapolda Timor Timur kala itu yaitu Kombes Timbul Silaen. Isak tangis penuh haru berpelukan tanda pisah antara anggota yang keluar dari Timor Timur dan anggota lain asal Timtim yang secara otomatis menjadi warga negara Timor Leste seperti Kepala Polisi Negara Timor Leste Paulo de Fatima dan teman dekat Julio de Ornai yang menjadi Kepala Polisi Timor Leste saat ini.

Usai upacara, semua anggota pasukan keamanan (TNI-Polri) keluar dari Timor Leste menuju Lombok NTB, dengan pakaian seadanya yang melekat di badan, karena saat itu tidak sempat lagi untuk mengurus harta apalagi pakaian, yang penting selamat keluar dari Timor Leste yang tengah membara. Dua hari kemudian kapal pun bersandar di pelabuhan Lombok. Dan Makarau pun  bertemu istri dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, kemudian melapor ke Polda Merto Jaya.

Dewa Penolong Kedua

Karena semua berkas saat di Timtim tidak sempat diselamatkan, sehingga ia hanya melapor dengan mengisi buku untuk permohonan mutasi hingga ditugaskan pada kesatuan Intel Polda Metro Jaya. Penertiban dan penyesuaian kembali berkas memakan waktu yang lumayan lama, sehingga semua teman-teman Ex Timor timur selama 8 bulan belum mendapatkan gaji.

Dalam kondisi begitu, (istri) sedang hamil, Jakarta adalah daerah yang masih asing bagi Makarau, karena baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta sehingga merupakan problem tersendiri, sementara perut tidak pernah mau kompromi dan harus diisi. Pada saat itu lagi-lagi Tuhan menghadirkan dewa penolong kedua yang bernama Hercules. Beliaulah yang banyak membantu saat terjerat kesusahan paska keluar dari Timor timur.

Dewa Penolong Kedua

Melalui dewa penolong itu pula sehingga Makarau berkenalan dengan saudara-saudaranya yang berasal dari Indonesia timur yaitu , Maluku, Ambon, Ternate, Sulawesi hingga Papua. Hubungan baik itu terjalin hingga sekarang termasuk dengan (Jhon Kei, Umar Kei, Nus Key  Daud Key, Feri Kili Kili, Martin, Logo, Wempi Daeng Sabil, Kakau dll) merupakan persaudaraan yang indah karena semuanya saling memahami.

Jadi Saksi Pengadilan HAM Timor-Timur.

Dua tahun berjalan bertugas di Polda Metro Jaya, timbul peristiwa hukum yang mengharuskan pejuang-pejuang di Timtim dihadapkan di pengadilan HAM. Ada beberapa Jendral berjasa dari TNI, Polri dan termasuk mantan Gubernur Timtim Abilio Soares serta Eurico Guteres duduk sebagai terdakwah di depan persidangan. Sebagai anggota yang banyak tahu tentang hal itu, Makarau pun dihadirkan sebagai saksi untuk para Jenderal yang dikaguminya demi Indonesia dan Merah Putih.

Bertugas di Polda Metro Jaya berjalan 20 tahun, dari tahun (2000-2020) adalah waktu yang panjang. Namun hal yang panjang itu terasa singkat, dan hal yang berat akan terasa ringan, karena dilaksanakan dengan enjoy dan senang hati. Kesemuanya itu tidak lepas dari Rahmatnya Robbul Jalil Tuhan semesta alam, dan doa dari orang tua tercinta, serta support dari istri yang setia ‘Suryani’ dan  anak-anak tersayang Ryan Maka Pratama Timor Resta, Rayhan Maka Adiyasa Putra dan Chevron Maka Praditya Abimanyu. Kalian semua adalah kekuatan “You Are My Power” tutur Iptu Makarau.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 komentar

  1. Perjalanan panjang yg berliku,penuh dgn hambatan dan aral menjadi inspirasi bagi orang lain.
    Tidak mudah !!! Setelah melewatinya baru kita menemukan kebahagiaan
    Good job sahabat ku