oleh

Intelek Berteori Dongo Dalam Memilih

Bima adalah daerah setingkat kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa. Daerahnya gersang, kering kerontan dan jumlah penduduknya pun walau digabungkan dengan Kota Bima tidak mencapai satu juta jiwa. Tetapi siapa yang menyangka bahwa di daerah itu tumbuh sebanyak 12 perguruan tinggi. Dan mungkin satu-satunya daerah tingkat dua yang berada diseluruh wilayah Indonesia hanya Bima yang memiliki perguruan tinggi sebanyak itu.

Mau bukti ? ini datanya...! 1).Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Ilmu Politik (STISIP) Bima; 2). Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Bima;  3). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima; 4). Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima; 5). Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM) Muhammadiyah Bima; 6). Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bima; 7). Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan & Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima; 8). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Yahya Bima; 9). Sekolah Tiinggi Agama Islam (STAIS) Sultan Muhammad Salahuddin Bima; 10). Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Bima; 11). Akademi Perawatan dan Kebidanan(AKPER) Harapan Bunda Bima; 12). Poltekes Suara Mandiri Bima.

Karena itu, lumrah saja jika masyarakat Bima terpelajar dan banyak menekuni ragam profesi;  Ada yang di pemerintah, jadi dosen, dokter, pengacara, guru dan tenaga pengajar formal maupun informal lainnya. Di bidang agama, Bima dikenal sebagai gudangnya Qori bertaraf Nasional maupun Internasional. Sebut saja Syamsuri Firdaus, belum lama ini berhasil menggondol Juara satu MTQ Internasional di Turki. Karena prestasi itu semua sehingga banyak orang Bima menjadi imam rawatib di masjid-masjid ternama misalnya; Masjid Istiqlal, Masjid Al-Azhar, Masjid MPR-DPR, Masjid UI dan banyak lagi lainnya. Karena memiliki suara bagus sehingga dipercaya untuk mengisi suara azan di beberapa televisi. Keberadaan masyarakatnya yang hidup agamis, tidaklah berlebihan jika Ulama Besar Prof. Hamka sepulang dari kunjunganya di Bima mengakatan “kalau mau belajar agama Islam datanglah ke Bima” tutur beliau.

Namun di balik prestasi gemilang itu, ada yang janggal tentang sikap kebanyakan orang Bima, yaitu dalam menentukan (memilih) pemimpin untuk memajukan daerahnya. Apa itu ?. Beberapa tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan di Bima yang dimintai komentarnya oleh Jakarta.News sependapat bahwa, orang Bima itu umumnya terpelajar tapi aneh dalam memilih pemimpin untuk daerahnya. Yasin salah satu tokoh pendidikan di Bima mengatakan, “saat berhadapan dengan pemilihan pemimpin daerahnya, yang muncul bukannya akal sehat tetapi ego, sehingga otak yang tadinya cerdas berubah jadi plongo” ujar Yasin. Lebih parah lagi, mata jadi mereka, “loyang dikira emas, buldru disangka sutra, kerbau dikira burung puyuh” ledek Yasin. Bukan hanya itu kata Yasin,  “akal sehatnya tergerus oleh Pesona dan Mitos, sehingga. Si-Nganu yang tidak punya Nganu tampil memimpin Bima. Saking dungunya, ada yang beranggapan bahwa, ludah-nya si-Nganu bisa membasmi hama’, dan karena saktinya si-Nganu hasil panen melimpah’. Otaknya benar-benar mampet hingga sulit memilah” ujar Yasin heran.

Yasin mengenang, “bahwa dulu Bima pernah dipimpil Zainul Arifin dan Nur Latif. pada saat Bima mengalami kemajuan yang pesat, hingga jasanya mereka masih dikenang masyarakat dan tercatat dengan tinta Emas di hati masyarakat Bima. Tetapi orang baik kaya gitu cepat dipanggil oleh Tuhan” kenang Yasin. “Dalam dasawarsa belakangan ini Bima dipimpin oleh Si Dongo-Plongo yang hanya mengandalkan Pesona & Mitos. Akibatnya Bima stag, mandeg bahkan mundur, karena si-Dongo tidak memiliki kompas, akan dikemanakan kapal berlayar…? ” papar Yasin.  

Apa dong solusinya desak Jakarta.News ?: Dalam menghadapi pilkada nanti, Yasin mengutip sebuah hadist, “Serahkan sesuatu perkara kepada ahlinya, kalau tidak tunggulah kehancuran. Sadari bahwa amanah yang diemban, akan dimintai dipertanggung jawaban di hadapan Tuhan. Oleh karena itu untuk memajukan Bima diperlukan pemimpin yang  memiliki gagasan dan skill. Copy paste aja yang dilakukan Zainul dan Nur Latif dulu, beres” tegas Yasin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.