oleh

Film Menjadi Kaca Cultured Studie Budaya

Film Bali Beats of Paradise
film tahun 90 an yang amat digemari kawula muda dieranya.

Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang paling populer, selain televisi tentunya. Menonton film, baik itu di bioskop, tube media stremming , telah menjadi sarana eskapasi diri yang menyenangkan.

Jika dahulu menonton film masih termasuk ke dalam suatu bentuk hiburan yang agak ekslusif, adalah benarnya. karena Film hanya bisa disaksikan dalam sebuah gedung yang bernama bioskop yang nyaman secara fasilitas place dan digital soundnya. Dan hanya kalangan tertentu saja yang akan menonton film di tempat macam ini.

Melalui film sebenarnya secara tidak sadar kita belajar tentang budaya. Baik itu budaya lokal di mana kita hidup di dalamnya, atau budaya daerah ataupun budaya luar yang sama sekali asing buat kita. Dan kita menjadi mengetahui kebiasaan budaya masyarakat ini begini dan budaya masyarakat itu begitu, yang tervisualisasikan melalui film.

Film juga dilihat sebagai media sosialisasi dan media publikasi budaya yang ampuh dan persuasif. Buktinya adalah ajang-ajang festival film semacam Jiffest (Jakarta International Film Festival), Festival Film Perancis, Pekan Film Eropa, dan sejenisnya merupakan ajang tahunan yang rutin di selenggarakan di Indonesia.

dan baru baru ini film pendek bertemakan budaya dengan latar budaya pedalaman Banten “Litany For The Goddes yang di Sutradara kan oleh senior Kft Ensandi Joko Santoso,dimana film ini masuk dalam Asian Film Festival 2020 dengan penghargaan yang akan diraih Golden Diamond Award.Dan tentunya saja film ini sangat berbeda benang colour nya dari karya Livi Zheng “Bali Beats of Paradise yang kabarnya issuenya film iron mannya holywood sejajar dengan film tersebut.

Joko Santoso Bersama Penduduk asli Banten Dalam # Litany For The Goddes nominasi Asian Fistival Film

Sikap dalam merefleksikan budaya dan mengenal budaya melalui film penonton ingin tau bagaimana kehidupan sosial budaya masyarakat minang dari Sumatra Barat ,mereka juga ingin tahu mungkin kehidupan suku pendalaman di Indonesia dan berbagai dinamikanya. 

Unsur-unsur dan nilai budaya ini yang sering luput dan tidak disadari oleh khalayak penonton film tepatnya tidak merasa perlu yang penting cerita di film tersebut menarik mereka (penonton) sebagaimana yang tersajikan melalui media film.

Dalam zona lain sebenarnya film adalah tempat berkaca . Film digunakan sebagai cerminan untuk melihat bagaimana budaya bekerja atau hidup di dalam suatu masyarakat.

Ketika seorang remaja kita melihat film Ali Topan maka pada dasarnya mereka sedang melihat cerminan dari sosok Ali Topan itu hidup dengan sosial dan budayanya. Dan ketika kita menonton film Ada Apa Dengan Cinta remaja kitapun diobsesikan dengan budaya romanza dari acting nya Dian Sastro dan Nicolas Saputra Yang menjadi sebuah meme kuat dengan dialoge “Rangga Kamu Tega …”

Film AADC 2 Nicolas Saputra & Dian Satra yang sudah meninggalkan masa remaja.

Representasi atau mengaca dapat kita maknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan tradisinya yang disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural studie memfokuskan diri kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri.(Fhm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.