oleh

Erni Bajau: STOP Premanisme Oknum Polisi di Kantor Polisi, STOP Bilang “Ayo Mengaku Saja”

Apa yang terjadi ketika Kantor Polisi yang kita harapkan sebagai tempat perlindungan dan tempat mengklarifikasi masalah justru menjadi tempat menyeramkan, tempat menakutkan baik bagi tersangka maupun orang yang melakukan tindak pidana atau pelanggaran hukun?
Ketika Anda melanggar hukum berat atau pun ringan, dari mencuri ubi kayu untuk makan sampai pembunuhan berencana, ketika Anda tiba di kantor polisi, maka Anda akan berhadapan dengan penyidik. Penyidik akan mem-BAP Anda. Penyidik akan membuat Berita Acara Pemeriksaan. Tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang BAP, tapi akan mengungkapkan yang terjadi selama pesakitan berada di kantor polisi, saat ditahan untuk proses penyidikan.
Contoh kasus, Si Aan (21 Tahun) terjerat kasus Pemerkosaan. Si Aan “berhubungan” dengan pacarnya yang masih di bawah umur (16 Tahun). Anggap saja si Aan bersalah, dia berhubungan dengan pacarnya atas suka sama suka, namun naasnya, si Aan menemui pacarnya tidak sendiri, ia diantar temannya. Setelah melakukan “itu” dengan si Pacar ternyata temannya ini pun ikut menggasak si Pacar. Pada kondisi tersebut si Aan yang bodoh hanya merasa bingung dan sakit hati melihat keadaan tersebut.
Atas kejadian tersebut, orangtua si Aan dan keluarganya memohon-mohon maaf pada keluarga si Pacar, meski mendapat umpatan dan makian, keluarga si Aan terima dan mengakui kesalahan. Kesediaan si Aan dan keluarga untuk bertanggung jawab dan menikahi si Pacar ketika keluar dari penjara nanti, tak mempan mendapatkan maaf keluarga si Pacar, terlepas dari kasus pemerkosaan yang harus dipidana. Namun, permintaan maaf tak putus dan tak henti-hentinya dilayangkan pihak keluaga si Aan sia-sia, maaf tak diberikan. Menyadari diri sebagai manusia yang gagal mendidik anak dan anaknya telah berbuat asusila maka pantaslah si Aan dipidana. Dijerat sanksi penjara seumur hidup pun tak akan mampu menghapus rasa bersalah keluarag si Aan, rasa bersalah si Aan, dan tak mampu menghapus dosanya di mata Tuhan.
Hal yang sangat disayangkan adalah ketika beberapa oknum polisi juga harus menghakimi si Aan dengan beberapa pukulan dan tinju medarat di perut si Aan bertubi-tubi. Ketika pertama mendengar kabar si Aan dibawa ke kantor polisi atas kasus yang menimpanya, keluarganya bersyukur karena minimal si Aan terhindar dari amuk massa dan amuk keluarga si Pacar, namun jika amuk oknum polisi terjadi di kantor polisi tempat si Aan ditahan, bukan kah sama halnya terhindar dari kandang singa namun masuk ke kandang harimau?
Di kantor polisi, oknum polisi melayangkan tinju, pukulan, dan tendangan ke tubuh si Aan yang kerempeng dengan alasan prihatin dan empati pada si Pacar, apakah ini bukan tindakan premanisme di kantor polisi? Lebih-lebih jika terucap di mulut oknum polisi “Ayo Mengaku Saja”, memaksa si Aan mengakui perbuatannya. Apakah tugas (oknum) polisi ini untuk menyidik atau untuk langsung meminta pengakuan si tersangka tindak kasus kejahatan?
Kantor polsi yang diharapkan tempat teraman, tempat paling tepat dalam menyelesaikan masalah sengketa, salah paham, dan tempat perlindungan, justru menjadi tempat yang membuat was-was dan menakutkan bagi keluarga si Aan.
Hukum saja si Aan sesuai hukum yang berlaku. Jangan manjadikan alasan “Jika pemerkosaan itu terjadi pada anak gadis saya, terjadi pada adik saya, terjadi pada keluarga saya”, lalu mari kita coba balikkan faktanya, “Bagaimana jika anak lelaki kalian, adik kalian, keluarga kalian yang melakukan pemerkosaan itu? Dan posisi kasusnya terjadi seperti yang menimpa si Aan?’ Terimakah Anda, anak Anda, adik Anda, keluarga Anda “Dipukul” di Kantor Polisi? Disuguhkan dengan kalimat “Ayo Mengaku Saja”.
Meski bukan rahasia umum lagi, masyarakat yang keluarganya terlibat kasus (apapun) sangat menghkawatirkan keadaan keluarganya ketika berada di dalam sel tahanan. “Semoga saja dia tidak dipukul”, oleh siapa? Tentu oleh oknum Polisi yang berlagak seperti preman, ingin membuktikan diri sebagai orang yang harus ditakuti, orang yang ingin membuktikan kejagoannya, orang yang ingin memberikan pelajaran pada si Pesakitan di dalam sel dengan main hakim sendiri.
Mohonlah doa pada Tuhan, semoga Anda terhindar dari masalah kejahatan dan tindak kriminal apapun yang mengharuskan Anda berurusan dengan kantor pilisi dan bertemu dengan oknum polisi yang bersikap seperti preman. Apalagi Anda hanya masyarakat biasa, tidak punya koneksi, tidak punya backingan, hanya masyarakat kecil seperti si Aan.
Ajari Anak Anda agar tidak menjadi orang jahat seperti si Aan, tidak bodoh dan dungu seperti si Aan.