oleh

Dilematis…! Karena Hobi, Mayat ‘Meratap’ Terabaikan

Kisah bersambung. Biasanya ia dipanggil ‘Pa’Guru Si Gila Mancing’: Semangat ‘79 masih bersemayam rapi dalam dada P’Guru. Postur tubuh nan atletis menjadikan ia tetap lincah jika dibandingkan dengan teman seusianya. Sebut saja ‘Si-Kumis Putih’ dan si Perut Buncit, badannya gombrot dan sangat susah untuk diajak berlari atau berjalan jauh.

Perjalanan ‘hoby’ menuju pantai utara Babelan Bekasi tidak lagi ditemani Sang Jawara Fery & Udin, karena keduanya telah ‘bertobat’. Begitu juga P’Guru yang sebelumnya menjadi nahkoda tidak lagi bersemangat berkoboy karena objeknya telah bertobat.

Bersama konco-konconya mereka pergi menuju pantai utara melewati perkampungan kumuh, sawah kering, tambak bandeng dan hutan yang masih didiami hewan liar ‘Lutung’, merupakan pengalaman berharga bagi P’Guru beseta koleganya.

Sudah menjadi kebiasaan mereka, setiap pergi mancing P’Guru  dan teman-temannya selalu bawa ole-ole guna menyambung kekerabatan dengan warga di tempat tujuan, juga untuk hewan-hewan liar yang ditemukan (tersisa) oleh kejahilan manusia.

Kali ini yang dibawa (biskuit, obat-obatan, mie instan) serta satu tandan pisang untuk lutung yang berada di hutan pantai utara Bekasi. Menurut filosofi hidup mereka katanya “kebahagiaan berbagi sewalaupun tidak seberapa nilainya sangat indah di hati, karena  Allah tersenyum dengan itu”. .

Kalau kebahagiaan berpancing beda lagi katanya, “saat umpan disambar ikan, kayanya beban hidup menguap pergi ke alam lain. Sekujur tubuh dan sanubari plong dan terbebas dari pikiran yang  menyiksa. Lenyap entah ke mana,” kata mereka, entah berfilsafat atau bukan nggak tau.

Rasakan katanya, “saat berjibaku tarik menarik dan mempermainkan kendali melawan rontakan ikan, adalah kenikmatan yang tiada tara. Rasanya laksana mujahid yang berhasil membunuh musuh dalam perang tanding,” kiasan berdakwah ya…!

Kejadian Delematis Memilukan...! Air pantai nan jernih, ikan-ikan sedang galak menyambar, matahari kian memanas, box penampung hampir penuh oleh ikan-ikan segar, adalah titik kesempurnaan dan puncaknya kebahagiaan dalam kehidupan perpancingan. Sambaran ikan masih juga seru, suasana sekeliling tidak dipedulikan, hanya focus dengan serunya pertarungan dengan ikan. Beberapa kali senggolan barang asing kena punggung Pa’Guru lama-lama ia terusik juga, dan berniat untuk menyingkirkan benda tersebut.  Setelah diperhatikan ternyata MAYAT yang sudah tidak utuh lagi dan sontak P’Guru lari sambil  berteriak memanggil teman-temannya. “Ada apa ada apa” tanya dokter. Dengan rasa takut yang menerpa, denyutan jantung berdebar kencang, pita suara sulit mengeluarkan bunyi,  P’Guru hanya bisa sura gagap menunjuk ke mayat yang terapung.

Merekapun menghentikan kegiatan, kemudian bermusyawarah akan diapakan mayat tersebut. “Kita lapor polisi aja,” usul dokter. “Jangan…, bisa-bisa kita jadi bulanan polisi” Kata Umar yang kebetulan faham akan hukum. “Terus gimana,” tanya dokter. “Kita tinggal aja, pura-pura gak tahu,” timpa Umar PD.

Pendapat Umar diterima, mereka pun meninggalkan lokasi dengan perasaan bersalah karena membiarkan mayat begitu saja, padahal kewajiban muslim adalah menguburkan mayat secara layak. Dalam suasana hening dan perasaan hati yang gundah gulana, di pertengahan jalan sebelum masuk  perkampungan, dokter nyeletuk “bagaimana dengan ikan-ikan ini, saya gak mau bawa pulang takut terkontaminasi penyakit” dokter beralasan. “Saya juga gak mau ach, takut dimakan oleh anak saya” sergah P’Guru. “Bagaimana kalau kita jual saja, dan duitnya kita sumbang ke masjid,” usul Umar. Ternyata ide itu diterima, lalu ikan dijual dan mereka pulang dengan perasaan bersalah.      

Kapok-kah P’Guru untuk mancing ?”. Ternyata tidak…! Bahan tulisan berikutnya Pa’ Guru diserang dan dicakar Lutung. (Bersambung)

‘     

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.