oleh

Bima Di Bawah Ketiak ‘Timbu’ Dompu

Apakah ini kutukan…? Sebagaimana ditulis media ini sebelumnya, bahwa deretan prestasi dan kesuksesan yang ditorehkan putra-putra terbaik Bima sangatlah fantastis. Hal ini bukan sekedar isapan jempol belaka, tetapi diakui secara nasional maupun Internasional. Ulama terkemuka dunia pun mengakuinya. Tetapi kenapa sekarang kehormatan dan integritas itu, tidak mau dijaga atau dipertahankan oleh orang Bima, sehingga rela memperhambakan diri di bawah ketiak orang lain. Apakah ini kutukan ?.  Entah-lah…!

Jika ditelisik bagaimana tegarnya putra-putra terbaik Bima dalam mempertahankan harga diri dan integritas, mulai dari zaman Orde Lama sudah tercatat oleh sejarah yaitu peristiwa Cikini. Karena harga diri, mereka berani tampil melawan kekuasaan. Tidak rela diri mereka berada di bawah kendali orang yang mengabaikan moral dan integritas. Apalagi untuk memperhambakan diri, ‘pantang bagi mereka’. Karena karakternya yang demikian, jarang ditemukan wanita Bima “maaf” menjadi pembantu apalagi kaum pria-nya.

Di zaman Orde Baru lebih tragis lagi, mereka kewalahan menghadapi militan (radikalisme), entah ini benar atau salah tergantung perspektif masing-masing. Penulis hanya melihat dari sudut pandang ‘karakter Bima-nya’ yang anti berada di bawah bayang-bayang kedunguan. Apa yang mendorong mereka berbuat seperti itu ?. Mengapa ada wanita Bima yang rela hidup menderita di hutan Poso bersama kelompok Santoso ?. Itu semua karena harga diri (tergantung) persepsi masing-masing.

Oleh Rezim Orde Baru, Bima dianggap zona merah yang memiliki faham radikal. Padahal menurut ajaran Agama Islam radikal itu bagus, karena mempelajari sesuatu atau belajar agama (Al-Qur’an, Hadits, As-Sunnah dll) harus tuntas sehingga faham dan menguasainya. Tetapi difahami oleh yang tidak faham itu, jadinya ‘beda…!’.

Pada intinya ‘karakter dasar’ orang Bima, (diwariskan) dan dicontohkan oleh Alim Ulama, Cendekia, para Intelektual, putra-putra terbaiknya yaitu ‘menjaga dan mempertahankan, eksistensi diri, (pantang) memperhambakan diri hanya karena materi atau jabatan.   

Dalam dasawarsa belakangan ini, apa yang terjadi di Bima?. Karena ‘hubbud dunya wa karohiyatul maut’ yaitu rakus dunia dan takut mati, telah memperdaya dan memecah belah masyarakat Bima. Demi untuk mendapatkan materi dan mempertahankan atau merebut suatu jabatan, strategi busuk yang sering digunakan yaitu saling intip dan saling lapor, adalah merupakan sniper andalan. Sehingga tumbuh (geng, kelompok dan spion) untuk mengintai lawan kompetitornya. Kemudian informasi busuk itu dilaporkan kepada majikan mereka yaitu ‘Si Nganu yang nggak punya Nganu’. Karena keterbatasan nalar dan kelihaian si pembisik memanfaatkan kelemahan itu sehingga Si Nganu menelannya mentah-mentah.

Akibatnya…! Karena mereka punya pengaruh dan berkepentingan, sehingga tanpa disadarinya telah merendahkan eksietensi diri mereka sendiri, dan menyeret masyarakat Bima umumnya untuk ikut berada di bawah ketiak orang lain. Sementara Si Nganu yang nggak punya Nganu bersorak riang sambil menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan, entah di Sanur Bali, Lombok atau pantai yang lebih dekat yaitu Pantai Wane

Description: Pantai Wane di Bima, NTB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.