oleh

Asal Usul Dan Uniknya Wawo, Sebagai Destinasi Wisata Kabupaten Bima NTB

Main pedang sebelum tubruk kepala

Pada masa pra kerajaan yaitu sekitar abad 13 masehi, di Bima telah ada era Ncuhi. Istilah Ncuhi  dalam beberapa literature adalah komunitas masyarakat yang mendiami dataran tinggi pegunungan di Bima. Dalam bahasa Bima lama, orang pegunungan disebut ‘dou donggo’. Dou berarti orang sedangkan donggo berarti pegunungan. Istilah lain untuk menunjukan desa-desa di dataran tinggi pegunungan dikenal dengan sebutan ‘ese‘ (di atas), misalnya ‘ese Donggo, ese Parado, ese Wawo. Dan mereka-mereka itu adalah merupakan Suku Mbojo asli.

Di Bima terdapat dua dataran tinggi pegunungan sebagai pemukiman yang sejuk dan nyaman. dibagian barat disebut ‘Donggo Ndi’ dan dibagian timur disebut ‘Donggo Ele’. Donggo Ndi adalah kecamatan Donggo sekarang, dan Donggo Ele yaitu Kecamatan Wawo dan Kecamatan Lambitu. Setelah kerajaan terbentuk, ada beberapa Ncuhi yang untuk mendiami dataran rendah di sekitar Teluk Bima. Namun ada yang tetap berada di pengunungan seoerti desa-desa tertua yaitu Donggo, Wawo dan Lambitu.

Beberapa desa pegunungan, dahulunya mempunyai bahasa yang berbeda di tiap wilayah. Namun Wawo dan Donggo sudah berkontaminasi oleh bahasa Bima dataran rendah (bahasa Mbojo), sehingga kini yang tersisa memiliki bahasa tersendiri adalah masyarakat Lambitu dan Wawo bagian selatan (Tarlawi) yang masih bertahan dengan bahasa asli mereka yaitu ‘Inge Ndai’.

Wawo, dalam bahasa Bima punya makna tersendiri yaitu ‘paling atas’, secara harfiah daerah ini adalah daerah yang paling tinggi di Bima, sekitar 1000 meter di atas permukaan laut, sehingga dengan letaknya yang demikian, terbentuklah karakter masyarakatnya ramah, santun, kondusif, dan diakui satu-satunya daerah paling aman di wilayah NTB.

Selain aman, Wawo terpelihara adat istiadat yang unik, dan mungkin satu-satunya yang ada dibelahan dunia. Apa uniknya?” yaitu memiliki “Uma Lengge dan kesenian Ntumbu”. Ntumbu adalah jenis kesenian adu kepala manusia, sebagaimana yang kita kenal di Garut Jawa Barat ada Adu Domba, tetapi di Wawo, adalah adu kepala manusia yaitu seorang pemain menubruk kepala lawannya dengan kepala.

Uma Lengge, Rumah Tradisional Wawo
Menumbuk Padi pake alat tradisional (Aru dan Nocu)

Dalam struktur wilayah, Ncuhi Wawo merupakan bagian dari Ncuhi Doro Wuni, berpusat di Lambu Bima. Dalam legenda Ncuhi Wawo yang disadurkan oleh para tetuanya, seperti kisah Ncuhi Maria, kuburannya terdapat di Dusun Kawae, dan oleh para keturunannya tetap dijaga dan dihormati.

Michael Hitchock, peneliti asal Prancil, saat mengunjungi Wawo tahun 1983, menuliskan satu legenda dari lisan Dou Wawo yang ditemuinya ketika itu, tentang bagaimana awal mula Dou Wawo tinggal di atas dataran tinggi. Menurutnya, “dahulu kala ada banjir besar melanda Bima, sehingga masyarakatnya menyelamakan diri naik ke dataran tinggi. Bertepatan dengan kejadian itu, ada dua orang anak laki-laki yang ditangkap burung elang, lalu seorangnya diletakkan di atas sebuah batu di suatu lambah pegunungan. Kejadian itu menurut masyarakat merupakan isyarat dan tanda bagus sehingga mereka membangun desa di lembah tersebut“.

Pada Era Kesultanan, orang Wawo diwajibkan membawa anak laki-laki maupun perempuan untuk mengabdi, guna mengisi pada beberapa bagian pasukan atau bagian tertentu di kesultanan. Untuk kaum wanita Wawo yang kebetulan mempunyai ketrampilan sejak turun temurun ditugaskan untuk membuat kerajinan berupa anyaman. Pada sekitar tahun 1912 para wanita Wawo sudah mahir membuat berbagai keranjang keperluan istana, seperti tempat nasi, penutup nasi dan perabot dapur termasuk hiasan dari bambu. Adapun ciri dari anyaman Wawo, variasinya terdapat beberapa warna garis yaitu hitam dan merah.

Wawo memiliki 9 desa yang berderet mulai dari ujung barat;  yaitu Desa Ntori, Maria Utara, Maria, Pesa, Kambilo, Riamau, Kombo, Raba, Tarlawi. Dan masing-masing desa memiliki keunikan adat istiadat serta tradisi yang berbeda. Misalnya Desa Ntori memiliki kesenian Ntumbu, Desa Maria Utara terdapat makam Ncuhi, Desa Maria memiliki Uma Lengge, Desa Pesa memiliki tempat wisata Wadu Ka’u.., Desa Kambilo memiliki sejarah Masjid Taruli Nggapo yaitu masjid pertama dibangun di daerah Bima, Desa Tarlawi terkenal dengan kerajinan anyaman. Wawo dikenal juga sebagai sentral penjualan hewan untuk kebutuhan Bima dan daerah lainnya di luar Bima.

Karena cuaca pegunungan yang sejuk dan dingin sehingga pada tahun 1936, menjadikan Wawo sebagai pilihan kolonial Belanda untuk membangun sebuah hotel yang benama Hotel Maria dengan kolam renang yang asri dari mata gunung, dan sekarang dikenal dengan nama Pasangrahan Oi Wobo. (Bersambung, edisi berikutnya tentang uniknya desa-desa di Wawo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.