oleh

Akibat Kepekaan Sosial Nipis, Mitra Kerja Pun Diabaikan

Jakartanews: Akibat kepekaan sosial nipis, keadaan yang memprihatinkan di depan mata luput dari perhatian Camat Kemayoran. Bagaimana tidak ? Kantor mitra kerja anggota muspika  (Koramil) Kemayoran yang reot dan lapuk tidak sedikitpun bikin hatinya terusik empati atau peduli, sehingga inisiatif untuk dibahas dalam rapat internal DKI. Mungkin menurut camat karena beda institusi dan garis komando, sehingga membuat dia masa bodoh.

Kantor Koramil Kemayoran

Di Jalan Kemayoran Serdang  Jakarta Pusat dalam lingkungan pagar yang sama, akan ditemukan pemandangan yang kotradiktif antara gedung Kantor Camat yang mentreng dan mewah, sementara di sampingnya terdapat kantor Koramil yang layak disebut kandang kuda. Letaknya 1 meter di bawah permukaan jalan, sehingga jika hujan selalu langganan banjir.

Pemandangan yang kontradiktif itu tiap hari dilihat dan dilalui oleh Camat dan pegawai lainnya. Entah apa yang ada dalam benak dan kata hati mereka dengan melihat ketimpangan di depan mata, padahal Danramil adalah mitra kerja konstruktifnya. Ok lah..! Bagi militer, hal demikian tidak sedikitpun terpengaruh dengan semangat kerja, karena doktrin mereka pantang untuk meminta apalagi mengemis.

Mobil operasional Koramil Kemayoran, 

Penulis yang kebetulan lewat, menyempatkan diri mampir ke kantor Koramil Kemayoran. Dengan ramah dan sigap dau orang anggota jaga, mempersilakan penulis untuk masuk, dan mereka pun menawarkan minum kepada penulis, “mau dibikinin kopi atau teh, kebetulan kita lagi ngopi nih” tawarnya. Sementara di depan kantornya, ada seseorang bercelana pendek dan kaos loreng, tampilannya sangat bersahaja, sedang membuat bingkai untuk spanduk.

Anggota tadi bertanya, “ada yang bisa kami bantu?” tanyanya. Penulis pun menimpalinya  “Kalau hujan, kantornya kebanjiran dong?” timpa penulis. “Jelas Bang, karena letaknya 1 meter di bawah jalan, jadi air dari kantor camat dan dari jalan pada ngalir kemari” jawabnya polos. “Pak Camat tau nggak?” tanya penulis. “Tau-lah, cuma beliau diam aja”, tuturnya. “Gimana koordinasi sesama Muspika dalam tugas?”, penulis coba ngorek. “Kalau hal itu urusan komandan”, elaknya.   “Komandannya ada nggak?” tanya penulis. “Itu beliau.., lagi olahraga pake palu dan paku” jawab anggota tadi sedikit kelakar sambil menunjuk kearah komandannya.

Penulispun minta izin untuk temui beliau. “Perlu tenaga bantuan gak komandan?” sapa penulis. “Oyaa… dari mana nih ?” tanyanya sambil berdiri nyambut dan salaman. “Kebetulan lewat, ingin lihat balihonya” jawab penulis. “Posisi kantornya rendah ya… rawan banjir dong?” canda penulis. “Kita syukuri aja” jawabnya. “Gimana kemitraan muspika, lancar?”, tanya penulis lagi. “Lancar dan kondusif” tandasnya.

Sang Komandan fokus bikin bingkai baliho

Memperhatikan kantor Koramil berukuran (±6×12) meter yang kondisinya memprihatinkan itu. Dalam hati penulis, daerah lain saja yang terkena musibah (NTB) dibantu oleh Gubernur DKI, apalagi sekedar perbaiki kantor mitra kerjanya yang selalu siaga siang malam menjaga dan menciptakan keamanan di wilayah DKI, masa nggak dibantu, kalau hanya sekedar perbaiki doang?, tanya penulis dalam hati… Ach tidah mungkin, pasti kalau gubernur tahu akan dibantu… Mungkin camat saja yang sungkan untuk dibuka dalam rapat internal pemprov DKI.

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.