oleh

Kombes Pol (Pur) Hanafi,SH, Alumni SMPP-SMA2 Bima, Cerdas Bertalenta Bisa ‘Serobot Jalur’

AKBP Hanafi, saat isi Tausiah
Smart Dalam Dinas

Penulis pernah dikagetkan, saat melihat seorang kawan sedang memberikan tausiah agama untuk karyawan Sumarecon di Kelapa Gading Jakarta Utara. Materinya bagus dan para jama’ah khusus mendengarkannya. Sesusai ceramah penulis mendekati beliau sambil berkelakar “kapan beralih profesi, biasanya sibuk dengan urusan lalu lintas di Jawa Barat?” canda penulis. Kawan itu kaget sambil ekspresi dengan wajah senang karena tidak menyangka bertemu penulis di tempat itu. “Alhamdulillah Babaku sayang” jawabnya. ‘Baba’ dalam bahasa Bima, adalah panggilan ‘akrab (bermanja) kepada seorang kakak. Teman baik itu adalah AKBP.Hanafi,SH, yang bertugas di Dirlantas Polda Jawa Barat.   

Untuk melepas kangen, kami pun memilih tempat biar bisa ngobrol secara santai. Lalu dengan perasaan kagum dan salut, penulis berusaha untuk mengetahui hingga kawan baik itu dipercaya sebagai penyaji kajian, “hari ini akan saya tilang anda. Kenapa sebagai anggota polantas berani menyerobot jalurnya ustadz?” somasi penulis. Sebelum menjawab, teman baik itu lama terbahak-bahak. Begini ‘Baba’ jawabnya, “Baba tetntu pernah membaca Hadist tentang kisah tiga orang yang terperangkap dalam goa?” ia balik tanya, “pernah” jawab penulis. “Lalu apa hubungannya?” kejar penulis dengan rasa ingin tahu. “Cerita dalam hadits itu, secara akal tidak mungkin mereka bisa keluar dari goa kalau hanya mengeser batu besar itu dengan tenaga mereka bertiga” jawabnya. “Jadi gimana dong?” tanya penulis penasaran. “Dalam konteks hadist itu tidak semata hanya sekedar amalan belaka, tetapi mengandung suatu nilai prestasi. Jadi dengan prestasi yang lebih itulah sehingga datang bantuan dari Allah” papar teman baik itu, menandakan tentang kwalitas ilmunya dalam memahami agama. Lebih lanjut ia mengatakan, “nilai manusia di mata Tuhan dibedakan dengan ketaqwaannya. Tetapi sangat beda orang yang bertaqwa karena ilmu dengan orang yang takwa tanpa ilmu“, bukan demikian tegasnya?

Berkaitan dengan seorang polantas yang menyerobot jalurnya ustadz, dan akan ditilang oleh wartawan, saya akan memberikan argument biar nggak ditilang”, kelakar teman baik itu sambil ketawa. “Coba… apa argumennya?” desak penulis. Coba ‘Baba’ bayangkan “seandainya adikmu ini, setelah purna bakti, pagi-pagi berpakaian dinas polantas lengkap, lalu sibuk ngatur lalulintas di jalan, kira-kira apa kata orang?”, tanyanya retoris. “Pasti ditertawakan orang atau disangka stres” jawab penulis. Oleh karena itu, “adikmu ini tidak mau diketawain orang, makanya pindah jalur, dan bukan menyerobot jalurnya ustadz Syamsudin“ jawab dia dengan guyon yang berkelas. “Adikmu ini tidak mau setelah pensiun nanti, hanya isi waktu dengan bersepeda dan kongko-kongko doang. Maunya yang produktif“, begitu ‘Baba’ pungkasnya.  

Ini serius, pinta penulis, “ente belajar agama dan berceramah di mana, kok sampai diminta Sumarecon untuk mengisi kajian di kantornya?” tanya penulis. “Belajar sama Baba Kamil” jawabnya. “Ngaco entemana ada Jendral Kamil, sempat ngajari agama sama polantas yang ukur jalan Jawa Barat timpa penulis. Diapun ketawa lalu ketawa ngakak….!

Temu kangen antara dua kawan baik ini, walau disampaikan dengan kocak, tapi mengandung suatu nilai bahwa, orang yang cerdas bertalenta tidak pernah fakum walau sudah purna bakti. Ia akan menerabas jalur lain untuk tetap berkiprah. Begitu pula dalam beribadah, tidak sekedar rutinitas hanya menggugurkan kewajiban, tetapi diperlukan suatu prestasi sehingga bantuan Allah mudah didapat.  

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.